JAKARTA – Malaysia melaporkan 10 klaster baru tuberkulosis (TBC) hingga 7 Februari 2026. Otoritas kesehatan setempat mengimbau masyarakat, termasuk wisatawan, untuk mengenakan masker saat bepergian guna mencegah penyebaran penyakit.
Pada 10 Februari, Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, mengungkapkan terdapat 37 kasus TBC yang terdeteksi di Kota Tinggi, Johor. Klaster tersebut melibatkan enam siswa, tiga di antaranya telah dinyatakan pulih, menurut keterangan pejabat setempat pada 12 Februari.
Secara keseluruhan, sebanyak 2.571 kasus TBC dilaporkan di Malaysia sepanjang 1 Januari hingga 7 Februari 2026, berdasarkan laporan media lokal Malay Mail.
Lonjakan kasus ini terjadi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan, periode di mana mobilitas masyarakat meningkat, termasuk perjalanan lintas negara.
Melansir Straitstimes, Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Singapura yang dirilis Maret 2025 mencatat 1.156 kasus baru TBC aktif sepanjang 2024, dengan tingkat kejadian 27,6 kasus per 100.000 penduduk.
Profesor Hsu Li Yang, ahli penyakit menular dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock, National University of Singapore, menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang terpapar bakteri TBC tidak akan mengembangkan penyakit tersebut.
Menurutnya, seseorang yang terpapar dapat mengalami dua kondisi:
“Sebagian besar orang yang terpapar tidak akan jatuh sakit seumur hidupnya. Jika berkembang, biasanya terjadi beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah paparan,” jelas Prof Hsu.
Ia menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami batuk berkepanjangan, terutama bila disertai demam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau keringat malam berlebihan.
Terkait rencana perjalanan ke Malaysia, Prof Hsu menilai belum ada kebutuhan untuk menunda perjalanan saat ini. Namun, ia menekankan pentingnya mengikuti anjuran otoritas kesehatan setempat.
Ia juga menyarankan penggunaan masker di tempat ramai sebagai langkah pencegahan, mengingat TBC merupakan penyakit yang menular melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin.
Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDA), penularan TBC umumnya terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan, seperti dengan anggota keluarga serumah, rekan kerja, atau teman sekelas.
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TBC, antara lain:
“Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, sebaiknya mempertimbangkan kembali apakah perjalanan benar-benar diperlukan,” ujar Prof Hsu.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan tetap penting, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat menjelang musim liburan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)