JAKARTA - Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan peningkatan, baik secara global maupun di Indonesia. Namun demikian, tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah, sehingga banyak pasien tidak mengenali gejalanya sejak dini dan baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.
Perlu diketahui bahwa IBD merupakan penyakit radang usus kronis yang hingga kini masih kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, penyakit ini bersifat progresif, berlangsung jangka panjang, dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius bila tidak ditangani secara tepat sejak dini.
IBD adalah kondisi inflamasi kronis pada saluran cerna yang terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tidak spesifik seperti nyeri perut berulang, diare kronis, penurunan berat badan, anemia, hingga kelelahan.
Gejala-gejala ini kerap disangka sebagai maag, irritable bowel syndrome (IBS), atau infeksi saluran cerna biasa. Kesamaan gejala tersebut membuat banyak pasien IBD baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.
Padahal, keterlambatan diagnosis dan terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan saluran cerna, obstruksi usus, fistula, serta peningkatan risiko kanker kolorektal.
Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam bidang Gastroenterologi-Hepatologi di RS Abdi Waluyo mengatakan, penegakan diagnosis IBD sendiri membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan teliti.
Selain evaluasi klinis, diagnosis perlu didukung oleh pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya untuk membedakan IBD dari penyakit lain yang menyerupai, termasuk infeksi saluran cerna dan tuberkulosis usus yang masih cukup tinggi prevalensinya di Indonesia.
“Setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini. Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal," jelas Prof Marcel, dikutip dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Prof. Marcel menegaskan bahwa penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam. Setelah diagnosis, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.
“Pendekatan treat-to-target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang,” ungkapnya.
Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, angka kejadian IBD memang masih relatif lebih rendah dibandingkan negara Barat. Namun berbagai studi menunjukkan tren peningkatan kasus yang konsisten dari tahun ke tahun, seiring perubahan gaya hidup dan lingkungan. Kondisi ini menuntut peningkatan kewaspadaan klinis serta kesiapan sistem layanan kesehatan dalam mengenali dan menangani IBD secara lebih dini dan tepat.
Upaya peningkatan pemahaman mengenai IBD juga terus dilakukan melalui berbagai forum ilmiah. Salah satunya melalui penyelenggaraan IBD Update 2026: Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease, yang digelar RS Abdi Waluyo.
Melalui gelaran ini, para pakar nasional dan regional dipertemukan untuk membahas perkembangan terkini terkait diagnosis dan tata laksana IBD. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Asian Education Network in IBD (AEN-IBD) dan Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia (PGI) pada 23–24 Januari 2026 di Jakarta.
Tidak hanya melalui forum ilmiah, RS Abdi Waluyo juga mengembangkan RS Abdi Waluyo IBD Center sebagai pusat layanan IBD pertama di Indonesia. Pusat ini mengusung konsep one-stop service dengan pendekatan holistik dan multidisiplin, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan berbagai spesialis dan subspesialis sesuai kebutuhan pasien.
Sebagai bagian dari penguatan layanan, RS Abdi Waluyo juga menyediakan Intestinal Ultrasound (IUS) sebagai metode diagnostik dan monitoring noninvasif, yang memungkinkan penilaian aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang. Pendekatan ini mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat dan berorientasi pada hasil jangka panjang pasien.
(Rani Hardjanti)