Misalnya, kegiatan keagamaan dan tradisi sosial seperti arisan, gotong royong, serta aktivitas komunitas lainnya yang memberi rasa kebersamaan. Dari kegiatan tersebut, masyarakat merasakan tujuan hidup yang kuat, hubungan keluarga yang erat, serta dukungan komunitas yang tinggi, di mana faktor-faktor ini sangat berpengaruh dalam penilaian flourishing.
Keterlibatan sosial seperti ini dinilai memberi kontribusi besar terhadap kesehatan mental, rasa aman, dan makna hidup yang lebih dalam. Studi ini menilai flourishing sebagai konsep yang lebih luas dari sekadar kebahagiaan.
Bukan hanya soal merasa senang atau puas, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan fisik, makna hidup, hubungan sosial, karakter, serta stabilitas hidup secara umum. Temuan ini menegaskan bahwa kesejahteraan hidup tidak selalu berpatokan pada kekuatan ekonomi.
Negara-negara kaya seperti Amerika Serikat ternyata tidak lantas menghasilkan masyarakat yang merasa hidupnya utuh dan bermakna. Dalam studi ini, AS disebut berada di kelompok menengah, kalah dari negara-negara dengan tingkat pendapatan lebih rendah tetapi memiliki hubungan sosial dan rasa tujuan hidup yang lebih kuat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)