JAKARTA - Memasuki tahun baru merupakan waktu yang tepat untuk membentuk kebiasaan baru. Salah satunya kebiasaan belanja yang lebih sadar.
Dilansir dari The Everygirl, Senin (5/1/2026), berikut enam aturan konsumsi yang relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna mengurangi perilaku konsumtif yang berujung mubazir.
1. Beli Pakaian dengan Serat Alami
Aturan ini menekankan pentingnya kualitas dibandingkan kuantitas dalam berbelanja pakaian. Dengan membatasi pembelian pada bahan serat alami seperti katun atau linen, seseorang akan menjadi lebih selektif terhadap pakaian yang dikenakan sehari-hari.
Selain lebih nyaman di kulit, pakaian berbahan alami cenderung lebih awet dan tidak cepat rusak. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga membantu mengurangi siklus belanja berulang akibat pakaian murah yang cepat aus atau dikenal sebagai fast fashion.
2. Meminjam daripada Membeli Baru
Keinginan untuk tampil berbeda sering kali memicu pembelian pakaian baru, padahal belum tentu digunakan berulang kali. Oleh karena itu, meminjam pakaian dari teman dapat menjadi alternatif sebelum memutuskan untuk membeli.
Selain menghemat pengeluaran, kebiasaan ini juga mengurangi penumpukan barang di lemari serta mendorong gaya hidup yang lebih kolaboratif. Untuk acara tertentu, meminjam bisa menjadi solusi praktis tanpa harus melakukan belanja impulsif.
3. Batasi Pembelian Online Melalui Laptop
Belanja melalui ponsel sering kali membuat proses membeli terasa terlalu cepat dan impulsif. Dengan membatasi transaksi hanya melalui laptop atau komputer, terdapat jeda waktu yang membantu seseorang berpikir ulang sebelum benar-benar melakukan pembelian.
Cara sederhana ini efektif untuk menekan impulse buying, terutama yang dipicu oleh iklan media sosial atau notifikasi diskon yang muncul tiba-tiba.
4. Terapkan Aturan 72 Jam Sebelum Membeli
Aturan menunggu selama 72 jam sebelum membeli barang bertujuan memastikan keputusan belanja tidak didorong oleh emosi sesaat. Biasanya, jika barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan, keinginan untuk membeli akan berkurang dalam beberapa hari.
Namun, jika setelah tiga hari barang tersebut masih terasa diperlukan, pembelian dapat dilakukan dengan lebih yakin dan meminimalkan penyesalan.
5. Berhenti Mengikuti Merek dan Influencer Impulsif
Media sosial sering menjadi pemicu utama belanja tidak terencana. Oleh karena itu, penting untuk membatasi akun atau konten yang mendorong keinginan belanja berlebihan.
Dengan mengurangi paparan promosi, seseorang dapat lebih fokus pada kebutuhan nyata, bukan tren sesaat atau tekanan sosial untuk terus membeli.
6. Utamakan Pengalaman daripada Barang
Daripada mengalokasikan anggaran untuk barang, lebih baik berinvestasi pada pengalaman, seperti liburan singkat, kelas keterampilan, atau aktivitas bersama orang terdekat.
Pengalaman cenderung meninggalkan kesan jangka panjang dan nilai emosional yang lebih besar dibandingkan barang yang cepat usang atau terlupakan.
Enam aturan konsumsi ini bukan berarti melarang belanja sama sekali, melainkan membantu agar lebih selektif, bijak, dan memahami kebutuhan hidup.
Dengan menerapkan sebagian dari aturan konsumsi ini, tahun baru dapat dijalani dengan kondisi keuangan yang lebih sehat serta ruang hidup yang lebih ringan.
(Rani Hardjanti)