ANGGAPAN bahwa anak siap masuk Sekolah Dasar (SD) hanya karena sudah bisa membaca, menulis, atau berhitung, ternyata keliru. Pemahaman ini justru bisa menghambat perkembangan optimal mereka.
Terapis Okupasi Anak Aulia Fitriani A.Md.OT, S.Psi mengungkap bahwa kesiapan anak untuk jenjang pendidikan formal melibatkan banyak aspek non-akademis yang sering terabaikan oleh orang tua. Hal ini adalah indikator penting yang seharusnya menjadi fokus utama sebelum anak didaftarkan ke SD.
"Jadi baca tulis, hitung itu bukan harusnya bahkan tidak, tidak dijadikan satu patokan ya, sebenarnya," tegas Miss Aulia kepada Okezone, Senin (7/7/2025).

Menurutnya, fase sebelum usia 7 tahun adalah masa bermain yang sangat penting. Ia menambahkan bahwa kalau anak-anak bisa targetin mungkin di usia 5 sampai 6 mulai baru belajar baca tulis. Nah, pasti kan 7 tahun belum yang matang banget dan itu seharusnya tidak apa-apa sebetulnya untuk masuk sekolah dasar.
Aulia yang biasa bekerja dengan psikolog dan anak-anak usia sekolah, menjelaskan beberapa ciri-ciri anak yang siap masuk SD dari kacamata psikolog pendidikan, di antaranya
Salah satu indikator penting adalah kemampuan anak untuk mengikuti instruksi verbal yang terdiri dari tiga tahap atau lebih. Contohnya,
"Misalnya, kayak, 'Ayo, lepas kaos kakinya, lepas sepatu, habis itu simpan di rak.' Gitu, itu kan ada tiga tahap. Nah jika 'Eh ayo semuanya simpan dulu tasnya, kita berbaris di tengah, ya. Yang anak laki-laki di sebelah kiri, anak perempuan di sebelah kanan.' Nah, itu kan ada empat tahap," ucap Aulia
Kemampuan ini penting karena di SD, rasio guru dan murid lebih besar (15-20 murid per guru), sehingga anak dituntut untuk bisa mendengar dan mengikuti instruksi verbal secara mandiri, tanpa pendampingan intensif seperti di TK.
Perkembangan sensori motorik juga menjadi sorotan, terutama kualitas duduk anak.
"Misalnya, kayak, kemampuan duduknya gimana? Sudah bisa lama belum? Eh, masih goyang-goyang enggak duduknya?" ujar Miss Aulia.
Menurutnya, jika kualitas duduknya aja masih belum optimal, nanti kemampuan fokusnya pun akhirnya enggak optimal. Jika fokus tidak optimal, pelajaran yang diajarkan tidak akan masuk, membuat anak cepat lelah, dan waktu serta biaya terbuang sia-sia.
Aspek emosional sangat penting, terutama kemampuan anak untuk mandiri dari orang tua.
"Gimana, nih, anaknya? Udah bisa lepas belum dari orang tua?" pantikan aulia.
Aulia mengamati bahwa banyak anak usia TK masih belum bisa berpisah dari orang tuanya, yang tentu akan menjadi tantangan besar di lingkungan SD yang lebih mandiri.
Perkembangan sosial anak juga menjadi kunci. Miss Aulia menjelaskan bahwa di usia 7 tahun ke atas, mereka itu sudah mulai bisa ngeliat dari perspektif orang lain. Jadi, misalnya, kalau mereka suka cokelat, orang lain belum tentu suka cokelat. Jadi, tidak ada lagi pemaksaan.
Dia membandingkan dengan anak TK yang "masih sering kayak gitu, ya. 'Ih, kamu, tuh, eh mainnya ini saja,'” ucap aulia.
Hal ini karena anak di bawah 7 tahun masih cenderung menganggap semua orang berpikir dan merasa sama dengannya. Kesiapan sosial ini krusial untuk menghindari potensi perkelahian yang tidak perlu di antara teman sebaya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.