SEORANG wanita berusia 23 tahun bernama Caitlin Alsop, baru-baru ini mengalami pengalaman mengerikan yang hampir merenggut nyawanya. Apa yang awalnya tampak sebagai masalah kecil berkaitan dengan gigi bungsu yang terinfeksi, namun berkembang menjadi kondisi darurat medis yang mengancam nyawa.
Merangkum dari Vt.co pada Jumat (6/9/2024) Alsop awalnya hanya mengalami ruam di wajah tanpa masalah kesehatan lain yang signifikan. Dia sempat berkonsultasi dengan beberapa dokter, namun tak ada yang menyangka ada masalah serius di balik gejala-gejala tersebut.
“Saya sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter, tapi saya tidak benar-benar berpikir ada sesuatu yang salah, kemudian saya mulai mengalami gejala seperti flu,” tutur Alsop kepada News.com.au.
Gejala yang dia alami, seperti demam, sakit tenggorokan, dan nyeri telinga, didiagnosis sebagai flu biasa. Mengikuti saran dokter, dia memilih untuk beristirahat. Sebab dia yakin bahwa istirahat akan cukup untuk memulihkannya.
Namun, kondisi Alsop tiba-tiba memburuk saat sedang makan malam dengan seorang teman. Dia merasa seolah-olah menggigit lidahnya sendiri, dan dalam beberapa jam, lidahnya mulai membengkak hingga dia kesulitan bernapas dan berbicara, serta mengeluarkan air liur berlebihan.

Khawatir ini adalah reaksi alergi, Alsop segera menghubungi keluarganya. Namun, ketika dia tak bisa menelan antihistamin, keluarganya langsung membawanya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter awalnya menduga Alsop mengalami anafilaksis dan memberikannya dua suntikan adrenalin.
Namun, kondisinya justru memburuk. Dia mulai kehilangan kesadaran, dan ruam parah menyebar di bagian atas tubuhnya. Kemudian Alsop dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas Gold Coast, di mana kondisinya menjadi misteri medis. Lidahnya menghitam, dan dokter khawatir dia menderita necrotizing fasciitis, infeksi yang sangat mematikan.
Untuk menstabilkan kondisinya, dokter melakukan intubasi dan membawanya ke unit perawatan intensif (ICU). Di ICU, kulit Alsop tampak seperti terbakar dari dalam.
Seorang ahli anestesi mencurigai dia menderita Ludwig's angina yang merupakan infeksi parah dan mengancam nyawa di daerah mulut dan leher. Alsop kemudian ditempatkan dalam keadaan koma dan diinduksi secara medis selama sembilan hari.
Setahun kemudian, Alsop baru sepenuhnya memahami betapa dekatnya dia dengan kematian. Infeksi yang dia alami telah berkembang menjadi sepsis, suatu kondisi serius dan sering kali mematikan yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan organ.
“Seperti banyak orang muda lainnya, saya tidak tahu bahwa infeksi bisa menyebabkan ini. Saya masih bisa berjalan, dan kemudian tiba-tiba tubuh saya seperti terbakar dari dalam di ICU sebagai misteri medis,” tuturnya.
Setelah pulih, Alsop bertekad untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya sepsis. Dia mendirikan proyek Face Sepsis, sebuah inisiatif edukasi yang bertujuan membantu praktisi perawatan primer mengenali tanda-tanda awal sepsis.
Gejala sepsis meliputi demam, menggigil, nyeri otot, kebingungan, pernapasan cepat, kulit berubah warna, dan detak jantung yang cepat, menurut NHS. Alsop berharap inisiatif ini dapat menyelamatkan nyawa orang lain dari ancaman sepsis yang sering kali tidak terdeteksi.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.