Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Serangan Israel Sebabkan Dokter Asing Terjebak Usai Merawat Orang Terluka di Gaza

Lulu Az Zahra , Jurnalis-Rabu, 22 Mei 2024 |07:00 WIB
Serangan Israel Sebabkan Dokter Asing Terjebak Usai Merawat Orang Terluka di Gaza
Serangan Israel sebabkan dokter asing terjebak di rumah sakit. (Foto: UNFPA)
A
A
A

SEBANYAK 35 dokter Amerika dan internasional datang ke Gaza sebagai sukarelawan untuk membantu salah satu dari sedikit rumah sakit yang masih berfungsi di wilayah tersebut. Mereka tahu sistem layanan kesehatan telah hancur, untuk itu para dokter ini membawa perbekalan medis dan telah berlatih di salah satu zona perang terburuk di dunia.

Namun, kenyataannya bahkan lebih buruk dari yang mereka bayangkan. Banyak anak-anak dengan amputasi mengerikan, penderita luka bakar dan luka penuh belatung, serta infeksi yang merajalela. Dokter Ammar Ghanem, spesialis ICU dari Detroit yang tergabung dalam Syria American Medical Society tidak menyangka kondisinya akan seburuk itu.

Melansir dari Associated Press pada Rabu (21/5/2024), serangan Israel ke kota Rafah selatan telah memperburuk kekacauan tersebut. Pada 6 Mei pasukan Israel merebut penyeberangan Rafah ke Mesir serta menutup pintu masuk dan keluar utama bagi pekerja kemanusiaan internasional.

Akibatnya, tim dokter tersebut terjebak di luar jadwal akhir misi dua minggu mereka. Selanjutya, pembicaraan yang dilakukan pada Jumat, beberapa hari setelah tim seharusnya berangkat antara otoritas AS dan Israel membuahkan hasil dan beberapa dokter dapat keluar dari Gaza.

Namun, menurut Asosiasi Medis Amerika Palestina, sekitar 14 orang, termasuk tiga orang Amerika memilih untuk tetap tinggal. Selain itu, Gedung Putih juga mengatakan bahwa 17 orang Amerika meninggalkan Gaza pada Jumat, dan sekitar tiga orang memilih untuk tetap tinggal.

Dokter di Gaza

Mereka yang meninggalkan gaza, termasuk Ghanem mengatakan perjalanan sejauh 15 mil dari rumah sakit ke penyeberangan Karen Shalom memakan waktu lebih dari empat jam karena ledakan terjadi di sekitar mereka. Selain itu, dia juga menggambarkan beberapa momen menegangkan, seperti ketika sebuah tank Israel di persimpangan membidik konvoi dokter.

14 dokter dari Asosiasi Medis Amerika Palestina yang memilih untuk tetap tinggal salah satunya yaitu termasuk Adam Hamawy dari Amerika. Dia dipuji oleh Senator AS Tammy Duckworth karena menyelamatkan nyawanya ketika menjadi pilot helikopter militer di Irak pada 2004.

Kedua tim internasional telah bekerja sejak awal Mei di Rumah Sakit Umum Eropa, tepat di luar Rafah yang merupakan rumah sakit terbesar yang masih beroperasi di Gaza selatan. Sebagian besar sukarelawan adalah ahli bedah Amerika, juga termasuk profesional medis dari Inggris, Australia, Mesir, Yordania, Oman, dan negara-negara lainnya.

Sekedar informasi, serangan Israel di Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel Selatan telah menghancurkan berbagai sistem kesehatan. Hampir dua lusin rumah sakit di Gaza tidak lagi beroperasi dan belasan rumah sakit lainnya hanya berfungsi sebagian.

Menurut pejabat kesehatan Gaza, kampanye Israel telah menewaskan lebih dari 35.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 79.000 orang. Selain itu, hampir 500 petugas kesehatan termasuk di antara korban tewas.

Operasi militer di Rafah yang berlansung hampir dua pekan telah menyebabkan lebih dari 600.000 warga Palestina meninggalkan kota tersebut dan berpencar ke seluruh Gaza Selatan. Sebagian besar staf Rumah Sakit Eropa di Palestina pergi untuk membantu keluarga-keluarga tersebut menemukan tempat berlindung baru.

Akibatnya, para relawan asing terbebani antara tugas darurat medis dan tugas lain, seperti mencari pasien di dalam rumah sakit. Tidak ada staf yang mencatat di mana orang-orang terluka ditempatkan dan obat-obatan yang dibawa tim sudah habis.

Selanjutnya, di luar rumah sakit, tempat ribuan warga Palestina berlindung terdapat limbah yang meluap ke jalan-jalan dan air minum payau atau tercemar sehingga menyebarkan penyakit. Selain itu, jalan menuju rumah sakit dari Rafah juga sekarang menjadi tidak aman.

Ketika serangan Rafah dimulai, 17 dokter FAJR Scientific yang tinggal di sebuah wisma di kota tersebut dikejutkan oleh bom yang mendarat beberapa ratus meter dari rumah yang ditandai dengan jelas. Mereka kemudian bergegas keluar dengan mengenakan pakaian pelindung dan pindah ke Rumah Sakit Eropa, tempat tim lainnya menginap.

Selain itu, dr. Mohamed Tahir, seorang ahli bedah ortopedi dari London dengan FAJR juga terbangun karena bom yang mengguncang rumah sakit. Namun, pasien yang diselamatkan membuatnya terus bertahan.

Tahir dan ahli bedah lainnya mengoperasi selama berjam-jam pada seorang pria dengan luka parah di tengkorak dan perut serta pecahan peluru di punggungnya. Namun, kasus terberat yang dialaminya adalah pada seorang anak laki-laki berusia empat tahun, seusia dengan putranya yang datang dengan luka bakar lebih dari 75 persen tubuhnya, paru-paru dan limpanya hancur tidak selamat.

(Leonardus Selwyn)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement