Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Heboh Bocah 4 Tahun Gelar Lamaran, Ini Tanggapan BKKBN

Devi Pattricia , Jurnalis-Jum'at, 19 April 2024 |13:32 WIB
Heboh Bocah 4 Tahun Gelar Lamaran, Ini Tanggapan BKKBN
BKKBN tanggapi kasus bocah 4 tahun yang lakukan lamaran. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

BELAKANGAN ini media sosial dihebohkan dengan bocah berusia empat tahun yang melangsungkan prosesi lamaran. Peristiwa ini kabarnya terjadi di Madura, Jawa Timur. Kabar tersebut langsung menjadi perhatian publik, sebab bocah perempuan tersebut masih berusia sangat dini bahkan masih termasuk ke kelompok Balita.

Menanggapi kasus tersebut, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menegaskan bahwa hal harus segera ditindaklanjuti. Dokter Hasto menyarankan bahwa setiap sekolah di Indonesia seharusnya memiliki pendidikan khusus mengenai Kesehatan Reproduksi (Kespro).

Paling tidak pendidikan tersebut dijadikan sebuah ekstrakurikuler wajib untuk para siswa. Pendidikan Kespro ini harapannya bisa meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Selain itu, para generasi bangsa memiliki bekal yang cukup untuk mengenai kesehatan reproduksi sejak dini.

“Pendidikan Kesehatan Reproduksi (KESPRO) termasuk bagian penting dalam membantu kualitasnya SDM,” kata dr. Hasto kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (19/4/2024)

Menurut dr. Hasto, proses reproduksi sangat berpengaruh penting kepada kualitas SDM yang ada. Sehingga melihat fenomena banyak anak-anak di bawah umur yang sudah melangsungkan pernikahan atau lamaran. Ini mengkhawatirkan keberlangsungan bangsa dan kualitas SDM di masa yang akan datang.

Pernikahan Dini

“Karena kualitas SDM sangat ditentukan oleh proses reproduksi dari Hulu-Hilir. Persiapan pra nikah yang sehat minimal sampai dengan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan),” ujarnya.

Maraknya pernikahan dini bisa mengakibatkan bonus demografi di tahun-tahun yang akan datang. Bukan cuma itu, pernikahan dini juga bisa berakibat fatal, sebab hal ini bisa membuat Indonesia gagal keluar dari jebakan middle income trap.

Middle income trap merupakan sebuah kondisi ketika suatu negara mampu mencapai tingkat pendapatan menengah, namun tidak bisa keluar dari tingkatan tersebut untuk berkembang menjadi negara maju.

Dokter Hasto menyatakan bonus demografi disertai dengan stunting, pengangguran meningkat, dan banyaknya pernikahan dini, maka hal ini bisa menjadi beban negara dan hal ini bisa berbahaya untuk masa depan negara.

“Sedangkan 2035 kita harus sudah mulai ada Tanda-tanda hasil bonus demografi tapi kalau masih banyak kawin muda, banyak anak, stunting, pengangguran, maka penduduk cenderung menjadi beban pembangunan bukan modal pembangunan. Berbahaya,” katanya.

(Leonardus Selwyn)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement