Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Relawan Asal Inggris Ngaku Banyak Lakukan Operasi pada Anak-Anak di Gaza

Syifa Fauziah , Jurnalis-Selasa, 16 April 2024 |07:00 WIB
Kisah Relawan Asal Inggris Ngaku Banyak Lakukan Operasi pada Anak-Anak di Gaza
Kisah relawan asal Inggris di Gaza. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

SEORANG dokter bedah asal Inggris menceritakan pengalamannya saat menjadi relawan di Gaza. Dokter Victoria Rose mengatakan dirinya sangat terkejut karena banyak menangani pasien anak-anak yang terluka dan harus menjalani operasi

“Sebagaian besar anak-anak 16 tahun, termasuk banyak di bawah enam tahun. Saya telah merawat orang-orang yang menderita luka tembak, luka bakar, dan cedera lainnya. Kurangnya makanan yang tersedia di Gaza berarti pasien tidak cukup kuat untuk sembuh dengan baik,” tutur dr Victoria, seperti dikutip dari BBC Today, Selasa (16/4/2024).

Dokter Victoria mengatakan dirinya menghabiskan dua minggu sejak akhir Maret di Rumah Sakit European Gaza dekat Khan Younis di Gaza selatan. Hal yang paling mengejutkan adalah selama perjalanan dia hanya mengoperasi satu orang yang berusia 53 tahun lebih tua darinya, katanya kepada program BBC Today.

"Semua orang lebih muda dari saya. Sebagian besar pekerjaan saya dilakukan oleh anak-anak berusia di bawah 16 tahun. Cukup mengkhawatirkan bahwa sebagian besar pekerjaan saya dilakukan oleh anak-anak berusia enam tahun ke bawah,” ucapnya.

Dokter Gaza

Kebanyakan pasien anak-anak itu mengalami luka bakar, luka akibat pecahan peluru, mengeluarkan benda asing dari jaringan, merekonstruksi cacat di wajah, mengeluarkan peluru dari rahang, dan sebagainya. Banyak juga masyarakat di Gaza yang yang kelaparan.

“Orang-orang di meja operasi saya kekurangan gizi. Banyak dari mereka menderita cachectic,” katanya, merujuk pada orang-orang yang mengalami penurunan berat badan ekstrem dan pengecilan otot.

“Saat kami melihat beberapa pasien kami yang kondisinya tidak begitu baik, terdapat lebih banyak infeksi dibandingkan yang pernah saya lihat di tempat lain. Banyak orang yang kadar proteinnya menurun, kadar hemoglobinnya turun. Mereka tidak mendapatkan nutrisi, vitamin atau mineral apa pun,” tuturnya.

Di sisi lain, dr Graeme Groom, yang juga bertugas Khan Younis, mengatakan suara bom, tembakan tank, dan tembakan senjata ringan lebih keras dibandingkan kunjungan masa perang sebelumnya. Saat dia dan dr Victoria bekerja di sana, militer Israel masih berada di Khan Younis. Mereka menarik sebagian besar pasukannya awal pekan ini.

“Ketika (pengeboman) semakin dekat, hanya butuh waktu singkat bagi kami untuk melihat dampak pemboman tersebut,” katanya.

“Hanya berjalan melewati unit gawat darurat, misalnya, sebuah truk pick-up yang dipenuhi orang-orang yang putus asa mundur ke pintu dengan tumpukan mayat yang saling bertautan, diikuti oleh barisan mobil dengan lebih banyak mayat di dalam sepatu bot,” ujar dr Groom.

(Leonardus Selwyn)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement