“KHANAAN memadukan pola batik dan bordir yang dihadirkan dengan arsitektur gaya Art Deco di Casablanca, Maroko. Ini wujud perpaduan arsitektur Barat modern dengan desain tradisional Maroko,” tuturnya.
Gaya Art Deco di kawasan ini, kata Khanaan, biasa disebut arsitektur mauresque, yang memadukan fasad melengkung gaya art deco Prancis dengan gaya ubin Islami.
Dalam kesempatan ini, Khanaan juga menceritakan soal koleksi tribute to Palestine. Dia mengaku terinpirasi dari kecintaan warga Palestina terhadap olive tree mereka.
“Olive tree ini melambangkan resistensi mereka terhadap Tanah Airnya. Selain itu, satu pohon zaitun bisa bertahan sampai ribuan tahun terlepas dari terpaan angin kencang dan kondisi tanah, sehingga hal ini menggambarkan keteguhan dan ketabahan mereka,” ucapnya.
Selain bentuk-bentuk detail bordir olive branch, di koleksi ini Khanaan juga terinspirasi oleh tatrez, kain sulam traditional khas Palestina. Khanaan mengambil motif tatrez berupa damask rose yang diaplikasikan dengan teknik bordir dalam warna nude, hitam, hijau, dan sentuhan merah.
Melalui koleksi ini, Khanaan memberikan bukti bagaimana fesyen dapat menjadi cermin yang memperlihatkan tantangan masyarakat sekaligus mercusuar harapan. “Menampilkan semangat pantang menyerah suatu masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, setiap detail mencerminkan kisah tradisi, ambisi, dan keinginan yang melekat untuk mendobrak hambatan. Ini bukan sekadar pakaian, namun juga simbol dari budaya dinamis yang menegaskan ruangnya di panggung global.
“Sebanyak 50 persen keuntungan dari seluruh hasil penjualan ketika private viewing berlangsung, didedikasikan Khanaan untuk untuk Palestina,” ucapnya.
(Tuty Ocktaviany)