PASANGAN suami istri, Dwi Purwanto dan Siti Saadah bersyukur bisa menjadi Agen BRILink. Dia mendapatkan banyak keberkahan, termasuk bisa memberangkatkan orangtua dan mertua umrah ke Tanah Suci.
Dwi dan Siti memang tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa meraih kesuksesan seperti sekarang. Sebelum menjadi Agen BRILink, mereka awalnya bekerja sebagai karyawan.
“Saya kerja sebagai montir dan ibu di bagian sparepart di daerah Palmerah. Saya kenal ibu di situ. Lalu kami menikah dan tinggal di rumah kontrakan,” kata Dwi menceritakan perjalanan hidupnya kepada Okezone.com di Toko Yoga Cell miliknya, Jalan Harun 2, No 70A, Sukabumi Utara, Jakarta Barat, baru-baru ini.

Dwi Purwanto sukses jadi Agen BRILink. (Foto: Tuty Ocktaviany)
Lantaran langsung hamil, Siti Saadah memilih untuk berhenti bekerja. Sementara Dwi tetap bekerja seperti biasa.
“Ibu lalu coba bisnis pulsa di rumah. Namanya Yoga Cell, sesuai nama anak pertama. Kebetulan ibu pernah ada pengalaman juga kerja di konter pulsa. Pembelinya masih tetangga sekitar,” kata Dwi.
Melihat ada peluang yang bagus, Dwi dan Siti berpikir untuk pindah ke tempat kontrakan yang lebih luas dan dekat jalan.
“Kami berpikir di belakang saja ramai, berarti di depan (dekat jalan) jauh lebih banyak yang beli. Untuk itu, saya pindah lokasi dan hasilnya memang bagus,” kata ayah dari empat anak ini.
Sambil berbisnis pulsa, Dwi yang sering bolak-balik ke kantor BRI untuk transfer uang, mendapatkan tawaran untuk menjadi agen BRILink. Kesempatan itu tidak disia-siakan, Dwi dan Siti menyetujui dan langsung menyiapkan persyaratan yang wajib dipenuhi.
“Setelah menjadi Agen BRILink, banyak konsumen transfer. Bahkan, kami saat itu sampai bikin nomor urutan karena jumlah konsumennya banyak. Tidak hanya dari masyarakat setempat, tapi ada yang lokasinya jauh juga. Mungkin mereka tahu dari mulut ke mulut,” kata Siti Saadah.
Menurut Siti, banyak konsumen yang memanfaatkan transaksi BRILink miliknya karena punya kelebihan.
“Intinya sabar, pelayanan harus baik. Bagaimana mereka tidak mengantre dan jangan terlalu mahal karena akan membebankan. Insyaallah dengan membantu masyarakat, saya dapat untung, mereka juga dapat. Intinya saling membantu,” ucap Siti.
Di saat usaha BRILink miliknya ramai, Dwi dan Siti diberi ujian. Anak pertamanya, Yoga, meninggal.
“Saya waktu itu masih bekerja. Diberitahu Yoga masuk klinik dan meninggal. Yoga saat itu masih TK,” kata pria asal Ngawi, Jawa Timur ini mengenang.
Siti merasa terpukul atas kepergian putra pertamanya. Dia sampai berpikir untuk menutup usahanya karena teringat terus almarhum.
“Saya dikuatkan oleh bapak saya untuk sabar. Saya baru kembali ke Jakarta sebulan kemudian setelah anak meninggal. Anak dimakamkan di kampung halaman, Grobogan, Semarang,” katanya.