Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Keji, Petugas Medis Gaza Disandera hingga Ditelanjangi oleh Pasukan Israel

Masya Hanifa Putri , Jurnalis-Rabu, 13 Maret 2024 |16:00 WIB
Keji, Petugas Medis Gaza Disandera hingga Ditelanjangi oleh Pasukan Israel
Tenaga medis di Gaza disandera hingga ditelanjangi. (Foto: BBC)
A
A
A

KONFLIK antara Palestina dan Israel masih terus berlanjut. Selain serangan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh pihak Israel, mereka juga melakukan penahanan kepada para tenaga medis di rumah sakit di Gaza. Pada 15 Februari 2024, terjadi penahanan terhadap paramedis Rumah Sakit Nasser di kota Khan Younis, bagian Selatan jalur Gaza.

Hal ini diungkap oleh salah seorang dokter sukarelawan di Rumah Sakit Nasser bernama Ahmed Abu Sabha. Dalam pengakuannya, Abu Sabha mengatakan bahwa selama penahanan mereka dihina, dipukuli, disiram air dingin, dan dipaksa berlutut selama berjam-jam.

Selain itu mereka juga dipaksa untuk menyerahkan pakaiannya lalu duduk berlutut dengan tangan berada di belakang kepala. Hal ini juga dituturkan oleh dua petugas medis lainnya yang juga ditahan oleh pasukan Israel saat itu.

Melansir dari situs BBC, Rabu (13/3/2024) penahanan ini dilakukan oleh Israel Defense Forces (IDF) dikarenakan pada tanggal 15 Februari badan intelijen Israel mengindikasikan rumah sakit Nasser menampung agen Hamas. Selain itu Rumah Sakit Nasser juga diyakini menjadi tempat penahanan sandera Israel yang dilakukan oleh Hamas pada 17 Oktober 2023.

Selanjutnya IDF menyatakan bahwa tindakan penyerahan pakaian perlu dilakukan untuk mencegah perlawanan paramedis yang mereka duga sebagai tersangka teroris.

Tenaga medis Gaza ditelanjangi

“Biasanya, selama proses penangkapan, tersangka teroris seringkali perlu menyerahkan pakaiannya agar dapat digeledah dan untuk memastikan bahwa meraka tidak menyembunyikan rompi peledak atau persenjataan lainnya,” ujar pihak IDF.

Selanjutnya Ahmed Abu Sabha menggambarkan situasi penahanan yang dilakukan para pasukan Israel. Abu Sabha mengatakan bahwa selama penahanan mereka sering diberikan hukuman sebagai penyiksaan seperti berdiri berjam-jam tanpa istirahat atau tengkurap dalam waktu lama tanpa diberi makan.

Para tahanan ini ditempatkan dalam ruang Mubarak yakni ruang bersalin di Rumah Sakit Nasser. Abu Sabha mengaku bahwa dalam ruangan itu dia ditempatkan di sebuah kursi seperti tiang gantungan. Situasi ini sangat mencekam hingga dia berpikir akan dieksekusi.

“Setelah itu mereka memecahkan botol dan gelasnya melukai kaki saya dan membiarkannya berdarah. Kemudian mereka mulai membawa dokter demi dokter dan mulai menempatkan mereka bersebelahan. Saya mendengar nama dan suara mereka,” menurut pengakuan Abu Sabha setelah dibebaskan dari penahanan.

Ketiga tahanan lain juga memberikan kesaksian lanjutan terkait hal ini. Mereka mengaku bahwa dipaksa masuk ke dalam kendaraan militer Israel dengan hanya memakai boxer dan menempatkan mereka secara bertumpuk di dalam. Selama perjalanan mereka juga mendapat pukulan, sumpah serapah, dan hinaan hingga disiram dengan air dingin.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement