Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

10 Persen Wanita Produktif Alami Endometriosis, Yuk Kenali Tanda dan Gejalanya

Syifa Fauziah , Jurnalis-Sabtu, 09 Maret 2024 |05:00 WIB
10 Persen Wanita Produktif Alami Endometriosis, Yuk Kenali Tanda dan Gejalanya
Wanita produktif rentan alami endometriosis. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

ENDOMETRIOSIS merupakan salah satu penyakit yang banyak dialami oleh wanita. Endometriosis menyerang 10 persen perempuan usia produktif di seluruh dunia dan terus menjadi kasus serius di tingkat Global dan Regional.

Menurut World Health Organization (WHO), Endometriosis menjadi penyakit kronis progresif yang menyebabkan nyeri dan seringkali menyakitkan, di mana jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim namun tumbuh di luar rahim.

Jaringan endometriosis bersifat seperti lapisan di dalam rahim, jaringan tersebut bisa menebal, rusak, dan berdarah setiap kali siklus menstruasi. Jaringan ini tumbuh di tempat yang bukan semestinya sehingga menimbulkan rasa sakit yang berlebihan.

Endometriosis termasuk penyakit dengan kekambuhan tinggi, sehingga memerlukan terapi jangka panjang untuk menanganinya. Selain itu, juga diperlukan adanya diagnosa dini agar penyembuhan lebih cepat dan lancar.

Sayangnya kerap kali terjadi penundaan diagnosis sehingga pasien Endometriosis datang ke dokter sudah stadium lanjut.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan serta staf pengajar FKUI-RSCM Dr. dr. Kanadi Sumapraja, Sp. OG, Subsp. FER, MSc., menjelaskan Endometriosis masih menjadi masalah yang besar khususnya bagi perempuan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah keterlambatan diagnosa, dimana data menunjukkan adanya keterlambatan diagnosa 6-8 tahun.

Rahim

“Padahal, setidaknya lima dari 100 perempuan usia produktif di Indonesia, serta 1 dari 10 perempuan di Asia, mengalami Endometriosis. Namun, banyak dari mereka yang baru mengetahui dirinya mengidap Endometriosis, sehingga datang saat kondisi sudah lumayan parah,” tuturnya saat ditemui dalam acara media briefing yang diselenggarakan Bayer dengan tema 'Terapi hormonal jangka panjang Dienogest menjadi rekomendasi kuat pengelolaan Endometriosis” yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat 8 Maret 2024.

Dokter Kanadi menambahkan penyakit ini menyebabkan tingginya angka morbiditas, ketidakhadiran, dan biaya sosial ekonomi, juga berpengaruh pada kualitas hidup, pendidikan, tingkat kepercayaan diri dan kesuburan pada perempuan (fertilitas).

Selain itu, Endometriosis sudah pasti menimbulkan beban serius bagi kesehatan fisik dan mental perempuan, sehingga kerap menghambat produktivitas perempuan dan keharmonisan keluarga. Oleh karena itu mengenali tanda-tanda Endometriosis sejak dini sangat penting dalam memperlancar terapi, serta dibutuhkan komitmen tinggi dan kepatuhan untuk menjalani pengobatan Endometriosis yang sangat kompleks.

“Perlu dipahami beberapa tanda dan gejala Endometriosis. Gejala utamanya adalah nyeri panggul yang dikaitkan dengan periode menstruasi. Nyeri ini akan meningkat seiring berjalannya waktu jika tidak mendapat pengobatan yang tepat. Selain itu, tanda dan gejala yang juga perlu diperhatikan seperti nyeri pelvik kronik, dispareunia dalam, keluhan intestinal siklik, dan kurang subur. Gejala dapat timbul pada 40 persen pasien, dan rasa nyeri bervariasi tergantung pada tempat terjadinya endometriosis,” tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement