“Sehingga toxic people, mental-emotional disorder, psikosis, skizofrenia juga mempengaruhi perceraian dan mungkin juga mempengaruhi orang untuk tidak menikah,” katanya.
Menurunnya angka pernikahan di Indonesia ini berdampak juga pada angka Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan wanita. Dokter Hasto menyatakan bahwa TFR Indonesia dari tahun 2010 hingga 2023 pun juga ikut mengalami penurunan.
“Pada 2010 itu rata-rata perempuan melahirkan satu perempuan hampir 2,5 persen lah rata-rata. Nah di 2022 ini sudah mencapai 2,18 persen. Artinya itu menunjukkan bahwa memang mereka tidak nikah atau mungkin mereka anaknya sedikit gitu,” tuturnya.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.