KEGEMBIRAAN menyambut lahirnya bayi yang selama ini di kandung nampaknya sudah tidak bisa lagi dirasakan oleh para ibu di wilayah Gaza. Kegembiraan tersebut sudah dirusak dan digantikan oleh penderitaan yang harus mereka jalani.
Para ibu harus melahirkan sambil disambut gempuran suara peluru dan juga pesawat jet tempur yang melesat di atas kepala mereka. Tentu saja kondisi ini membuat masa depan para bayi-bayi yang lahir penuh dengan ketidakpastian.
Aya Deeb salah satu dari ribuan ibu yang melahirkan di bawah perang Israel hanya bisa terdiam, duduk di sudut ruangan sebuah sekolah Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB Pengungsi Palestina (UNRWA). Dia menceritakan betapa takut dirinya kehilangan Yara, anaknya, saat lahir sebelum Hari Natal 2023.
“Pada masa-masa awal konflik, kami pindah ke rumah paman suami saya di Zawayda demi keamanan. Namun kemudian mereka menargetkan rumah sebelah (saya), dan akhirnya suami saya tewas dalam serangan itu,” kata Aya, dikutip dalam laman Aljazeera, Minggu (21/1/2024).

Akhirnya, Aya pun membawa Yara untuk kembali tinggal bersama keluarganya dan terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi mencari perlindungan bersama dengan pengungsi lainnya. atas kondisi tersebut, Aya mengaku merasa tertekan selama berbulan-bulan terakhir kehamilannya.
“Ada begitu banyak hal yang dibutuhkan seorang wanita hamil di trimester terakhirnya, tetapi kebutuhan seperti makanan dan air bersih pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ucap Aya.
“Yang lebih buruk daripada itu adalah kesedihanku. Kesedihan dimana aku harus melahirkan tanpa adanya suami di sisi ku,” katanya.