DUNIA perkeretaapian baru saja berduka menyusul musibah kecelakaan maut yang melibatkan Kereta Api (KA) Turangga dan KA Lokal Badung di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat yang terjadi pada Jumat pekan lalu.
Insiden tabrakan 'adu banteng' tersebut menyebabkan empat orang meninggal dunia.
Tak dipungkiri, jika kecelakaan kereta api bisa saja menimbulkan jumlah korban jiwa yang besar.
Adanya sabuk pengaman adalah cara paling efisien untuk mencegah cedera saat terjadi kecelakaan.
Namun, mengapa di kereta justru tidak ada sabuk pengaman, sementara di pesawat hal ini menjadi elemen penting bagi penumpang?
Nah, berikut empat alasan utama kereta api tidak memiliki sabuk pengaman melansir dari laman Train Conductor HQ.
1. Dianggap tidak bermanfaat
Mungkin tampak tidak masuk akal, tetapi sabuk pengaman tidak berfungsi sebagaimana mestinya di kereta api. Berbeda dengan mobil atau pesawat terbang.

(Foto: Pixabay/MabelAmber)
Sabuk pengaman mobil dirancang khusus untuk mengurangi cedera saat tabrakan. Mobil lebih sering tabrakan dengan kendaraan, orang, bahkan marka jalan.
Sama halnya dengan pesawat, penumpang harus mengenakan sabuk pengaman saat lepas landas, mendarat, dan turbulensi.
Kereta api memiliki peluang yang kecil untuk terjadinya tabrakan daripada mobil atau pesawat. Oleh karena itu, sabuk pengaman dinilai tidak memiliki tujuan tertentu di kereta.
2. Kontrol lebih stabil
Sabuk pengaman bukan satu-satunya perlindungan untuk menjaga keselamatan penumpang di kereta. Misalnya, Amtrak memiliki sistem Positive Train Control (PTC).
Sistem ini mengotomatiskan pengaturan kecepatan untuk keselamatan. Selain itu, membantu menghentikan kereta agar tidak tergelincir karena melaju kencang.
Contoh lainnya adalah Shinkansen di Jepang. Kereta ini telah berjalan tanpa sabuk pengaman selama lebih dari 50 tahun alias setengah abad lamanya dan sudah mengangkut miliaran penumpang. Tidak ada catatan mengenai korban jiwa akibat tabrakan atau tergelincir.