Tak lama membakar kemenyan, seorang temannya kembali kerasukan orang Saranjana. Orang Saranjana melalui jasad temannya itu lantas berbicara mempertanyakan tujuan kedatangan mereka dan siapa yang menyuruhnya.
"Saya disuruh Bu Haji, tapi dia tidak menyuruh untuk mengambil emas yang ada ini. Tapi disuruh ke sana dulu siapa tau orang di sana memberikan. Masalah dikasih atau tidak tergantung mereka di atas (penghuni Saranjana)," kata Haji Mansur.
Haji Mansur lalu melakukan penggalian di sumur tersebut untuk mencari emas batangan yang dimaksud. Namun upaya itu dicegah bahkan sempat akan dipukul oleh penghuni Saranjana yang ngotot tidak memberikan izin.
Penghuni Saranjana lalu menjelaskan jika Haji Mansur ingin melanjutkan penggalian agar dapat mengambil emas itu maka harus memenuhi syarat dengan membawa tumbal manusia yang memiliki hubungan darah atau keluarga, semisal saudara kandung, orangtua kandung, anak bahkan cucu.
(Foto: YouTube/Burhan Nahrub Channel)
Mendengar persyaratan itu, Haji Mansur lantas menghentikan penggalian. Ia pun memutuskan untuk kembali ke desa dan tidak jadi mengambil emas tersebut karena beratnya persyaratan yang diminta.
Saranjana yang dijuluki sebagai kota tak kasat mata memang selalu mengundang rasa ingin tahu banyak orang akan kisah-kisah magis yang dialami oleh orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya.
Meski begitu, bagi warga Desa Oka-Oka, Kota Saranjana tetaplah hidup sebagai bagian dari warisan budaya juga menjadi daya tarik bagi masyarakat Kalimantan Selatan.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.