MASYARAKAT kembali dihebohkan dengan adanya peningkatan kasus Covid-19 yang disebabkan oleh subvarian EG.5 di berbagai negara dunia. Bahkan Indonesia juga telah mendeteksi masuknya subvarian EG.5 sejak juni yang lalu.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam sub spesialis Hematologi-Onkologi, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM mengungkapkan bahwa subvarian EG.5 lebih cenderung menyerang saluran napas atas seperti hidung dan tenggorokan.
“Varian ini juga lebih menyerang ke saluran napas atas, amat sedikit yang sampai ke paru-paru. Angka kematiannya pun rendah. Di Indonesia sendiri tidak ada peningkatan terkait perawatan di rumah sakit,” tutur Prof Zubairi pada akun X resminya @ProfesorZubairi, Kamis (7/12/2023).

Meski telah mendominasi banyak negara, subvarian EG.5 ini memiliki gejala yang ringan. Ketua Satgas Covid-19 PB IDI, Prof DR dr Erlina Burhan, SpP(K), menyatakan gejalanya cukup ringan seperti demam, batuk, rhinorrhea, kehilangan penciuman dan pengecapan, serta nyeri badan.
“Dulu kan Omicron BA.4 dan BA.5 juga ada nyeri-nyeri otot. Itu adalah gejala umum seperti kasus infeksi varian sebelumnya,” kata Prof Erlina.
Walaupun memiliki gejala yang ringan dan tidak mengancam nyawa, masyarakat sebaiknya kembali menerapkan penggunaan masker ketika beraktivitas dan tetap menghindari aktivitas yang berkerumun. Sebagai informasi tambahan, PB IDI melaporkan adanya peningkatan kasus terinfeksi Covid-19 di Indonesia.