KANKER masih menjadi problem kesehatan utama di Indonesia. Bahkan, kanker adalah penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia.
Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling sering terjadi di seluruh dunia, khususnya untuk perempuan. Data Globocan (2020) mencatat terdapat 65.858 kasus kanker payudara pada perempuan.
Sementara itu, pada laki-laki kasus kanker terbanyak adalah kanker paru dengan jumlah 25.943 kasus. Disusul kanker kolorektal dengan 21.764 kasus.
Terkait hal ini, Dosen Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ) dr Sugiarto, Sp.PA, menerangkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pasien kanker terbanyak dengan kematian terbesar di Asia Tenggara.

Dengan kondisi tersebut, dr Sugiarto sangat menyarankan kepada masyarakat secara umum, pun kelompok tertentu yang memiliki risiko tinggi kanker, agar lebih rajin melakukan deteksi dini.
Hal senada juga disampaikan Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr Pitono Yap bahwa penting bagi masyarakat melakukan deteksi dini kanker. Terlebih kasus kanker semakin meningkat belakangan ini.
"Kunjung pasien kanker ke rumah sakit kami cukup tinggi dan kondisi ini yang membuat kami tergerak memfasilitasi masyarakat dengan layanan deteksi dini kanker dengan harga terjangkau," kata dr Pitono.
Layanan deteksi kanker yang dimaksud antara lain kanker payudara, kanker serviks, kanker usus, hingga kanker hati.
"Kami sebagai penyedia fasilitas kesehatan punya tanggung jawab kepada masyarakat untuk menyediakan layanan deteksi dini kanker yang prima dan dengan adanya promo khusus skrining kanker, kami harap dapat semakin memudahkan masyarakat," tutur dr Pitono.
"Semakin mudah akses deteksi dini kanker, semakin baik kualitas masyarakat, karena jika terdeteksi kanker di stadium awal, bisa segera ditangani dan 'output'-nya bisa lebih baik," katanya.
Ya, upaya deteksi ini sangatlah penting. Jika kanker ditemukan lebih awal, pengobatan yang dilakukan akan membuahkan hasil lebih baik, ketimbang menjalani pengobatan pada kasus kanker yang sudah lebih serius.
(Leonardus Selwyn)