PALESTINA masih terus dihujani serangan dari Israel. Serangan ini memakan korban luka dan korban jiwa hingga ribuan orang. Alhasil tenaga medis harus bekerja sepanjang hari di rumah sakit dan meninggalkan keluarganya.
Salah satunya adalah Mohammad Abu Namous. Dia terlihat memeluk putrinya untuk terakhir kalinya di perbatasan Rafah. Dirinya mengucapkan selamat tinggal secara emosional kepada keluarganya untuk membantu merawat ribuan orang yang terluka dalam pemboman Israel di daerah Gaza.
Kini, keluarga Namous sedang berada di Mesir. Keluarganya yang memegang kewarganegaraan Moldova termasuk di antara ratusan warga Gaza dengan paspor asing yang diizinkan untuk pergi ke Mesir melalui penyeberangan.
"Tidak ada jalan keluar lain dari ini. Tidak ada keamanan. Seluruh Jalur Gaza tidak aman. Itulah mengapa yang terbaik adalah saya mengeluarkan mereka sehingga saya dapat fokus pada pekerjaan saya merawat pasien," kata Namous kepada Reuters.

"Tentu saja, saya mengeluarkan mereka, tetapi saya sendiri akan tinggal di Jalur Gaza. Saya tidak akan pergi,” tuturnya.
Sebelum keluarganya berangkat Ke Mesir, Abu Namos memindahkan keluarganya dari kamp Jabalia di Gaza utara ketika serangan Israel mulai ke al-Zahra dan kemudian kamp al-Nusairat di Gaza tengah. Namun kedua tempat itu nyatanya tetap tidak aman. Jika keluarga dalam keadaan tidak aman, dirinya pun akan merasa tidak fokus bekerja.
Putri Abu Namous, Dina, mengatakan dia merasa bersemangat dan sedih dalam satu waktu sekaligus.
"Kita akan pergi ke sana, di mana ada listrik, air, internet dan segalanya. Tetapi pada saat yang sama, aku sedih bahwa ayah akan tinggal di sini,” ucap Dina.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.