KEPALA Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus Cacar Monyet di Indonesia tembus 27 kasus dan yang terbanyak di DKI Jakarta.
"27 kasus konfirmasi, ada di Bandung 1 kasus, Tangsel 2, Kab Tangerang 2 dan 1 Kota Tangerang sisanya Jakarta," kata Siti saat dikonfirmasi MNC Portal Indonesia.
Siti mengatakan, penyebaran kasus cacar monyet di tanah air didominasi akibat kontak seksual berisiko dengan berganti-ganti pasangan, hingga melakukan kontak sesama jenis.
BACA JUGA:
"Kontak seksual yang beresiko, berganti-ganti dan banyak pasangan terutama pada kelompok seks dengan sesama jenis," jelasnya.
Lebih lanjut, Siti menegaskan penularan kasus Monkeypox dari manusia ke manusia belum ditemukan dari hewan ke manusia.
Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropis dan Infeksi dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Robert Sinto SpPD, K-PTI mengatakan, penderita cacar monyet (monkeypox) tidak memerlukan antivirus apabila kondisi mereka stabil.
"Jadi, hanya sekelompok kecil pasien yang memang terindikasi mendapatkan antivirus, yaitu kelompok yang memang punya risiko progresi untuk menjadi berat atau pasien yang sudah dalam kondisi berat," kata Robert.
Ia mengatakan penderita cacar monyet baru bisa dianggap dalam kondisi berat dan dapat diberikan antivirus apabila pada tubuhnya terdapat lebih dari 100 lesi atau mengalami gejala lain, seperti mual, muntah, atau demam tinggi.
BACA JUGA:
Penderita lain yang juga dapat diberikan antivirus adalah mereka yang lokasi lesinya berada di tempat rentan, seperti di sekitar mata yang dapat menimbulkan kebutaan dan di tenggorokan yang bisa menutup jalan napas.
Selain itu, ia mengatakan bahwa vaksinasi sangat efektif menangkal penyakit cacar monyet meski tidak 100 persen, karena tidak ada vaksin yang tingkat efektivitasnya mencapai angka tersebut.
“Walaupun masih bisa terkena monkeypox, luas lesinya jadi lebih kecil secara signifikan berkat vaksinasi,” kata dia dikutip dari Antara.