MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, stunting adalah penyakit kronis yang sama bahayanya dengan cancer. Ia mengingatkan pada seluruh masyarakat Indonesia agar tidak menyepelekan gizi sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga sesudah kehamilan.
"Stunting penyakit kronis, gizi kronis. Jadi kaya cancer, jangan telat (diobati). Harus dicegah stunting itu," ucap Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers Gerakan Anak Sehat : Bersama Cegah Stunting di saluran Youtube Kementerian Kesehatan.

"Supaya jangan stunting, kita mesti urus ibunya sebelum hamil, pas hamil, dan setelah melahirkan. Itu ada 11 program," lanjutnya.
Dari 11 program yang tersedia, Budi Gunadi Sadikin menegaskan satu program terpenting yakni pencegahan stunting pada bayi setelah lahir ke dunia. Caranya sangat mudah dan bisa dilakukan oleh seluruh orangtua di rumah yakni dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan anak setiap bulannya. Hal ini upaya untuk mengetahui pertumbuhan anak.
"Ditimbang dan diukur setiap bulan. Kalau dia timbangannya enggak naik, dikirim ke puskesmas karena dia harus diperiksa ada penyakitnya enggak? pneumonia, diare, dan sebagainya," ucap Menkes Budi.
"Kalau enggak ada, harus dikasih makanan tambahan. Tambahan ya bukan inti. Makanan intinya tetap dia makan, tapi dikasih tambahan protein hewani karena penting untuk pertumbuhan otak" imbuhnya.
Dalam kesempatan ini ia menegaskan orangtua wajib memberi makanan tambahan berupa protein hewani seperti ikan, telur, dan daging dan orangtua dilarang memberi makanan tambahan seperti biskuit, mi instan, dan susu kental manis.
Pemberian makanan tambahan berupa protein hewani ini diberikan selama 4-8 minggu pada si anak. Dengan demikian, mereka tidak akan termasuk ke dalam golongan anak stunting.
"Kalau untuk berat badan kurang empat minggu, kalau dia gizi kurang delapan minggu. Insyaallah kalau ini dijalani, dia tidak masuk stunting," ucap Budi Gunadi Sadikin.
Lebih lanjut, ia mengatakan, jika stunting sama bahayanya dengan cancer. Ketika sudah terkena stunting, maka seseorang akan sulit diobati. Berdasarkan data yang ada, anak yang bisa terbebas dari stunting hanya 5-10 persen dari total keseluruhan. Hal ini benar-benar memperlihatkan jika stunting sangat susah disembuhkan dan harus benar-benar dicegah.
Jika anak-anak Indonesia terbebas dari stunting, tentu mereka akan menjadi anak yang sehat serta pintar. Sehingga nantinya akan berhasil mewujudkan Indonesia menjadi negara maju di 2030.
"Rumusnya (menjadi negara maju) cuma satu, harus fokus ke SDM. Dua yang harus dijaga, sdmnya mesti sehat dan harus pintar. Kalau dia stunting enggak akan mendorong Indonesia jadi negara maju. Jadi kita mesti beresin masalah kesehatan, stunting tuh dapet dua sehat dan pintar," Menkes Budi.
(Dyah Ratna Meta Novia)