GUNUNG Kawi Malang menjadi salah satu lokasi wisata religi. Di sana terdapat dua wisata religi yakni Keraton Gunung Kawi dan Pesarean Gunung Kawi. Dua wisata ini berbeda lokasi, meski masih berada di satu kawasan yang berdekatan.
Keraton Gunung Kawi berada di wilayah Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, sedangkan Pesarean Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, keduanya bagian dari Kabupaten Malang. Selain perbedaan lokasi wisatanya, status kepemilikan tanahnya juga berbeda.
Keraton Gunung Kawi berada di tanah milik Perhutani yang dikelola oleh desa dan Perhutani. Hasilnya mereka membagi keuntungan dari penjualan tiket masuk dengan Perhutani. Sedangkan di Pesarean Gunung Kawi, merupakan wisata religi yang dikelola oleh Yayasan Ngesti Gondo.
Secara penataan kawasan pun berbeda, karena Pesarean Gunung Kawi merupakan kepemilikan yayasan, dan tidak di tanah Perhutani, aspek penataan kawasan diperhatikan sedemikian rupa. Tak heran ketika anda berkunjung masuk, terdapat puluhan stan pedagang dari warga sekitar menjajakan dagangannya.
(Foto: MPI/Avirista Midaada)
Mendekati area pintu masuk, pengunjung akan disuguhkan dengan bangunan klenteng yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Konghucu. Terdapat juga Ciam Si yang dalam tradisi Tionghoa merupakan ramalan ala China yang ada di setiap klenteng.
Klenteng ini berada di luar area pesarean atau makam, tetapi masih berada pada satu kompleks. Pengunjung atau wisatawan dibebaskan berfoto-foto dengan latar belakang klenteng dan sensasi burung daranya. Suasana ala seperti di Asia Timur begitu terasa di kawasan klenteng ini.
Tak jauh dari klenteng terdapat beberapa loket pendaftaran pesarean berupa syukuran dan nazar. Di loket ini terlihat nominal bagi pengunjung yang mau syukuran mulai dari Rp110 ribu yakni syukuran ayam besek, hingga Rp17 juta berupa korban syukuran satu ekor sapi.
Perpaduan arsitek bangunan Jawa dan China begitu terlihat di kompleks Pesarean Gunung Kawi. Hal ini diperkuat dengan relief-relief di gerbang ikonik pesarean, yang menggambarkan kisah Eyang Jugo, tokoh yang dimakamkan di sini.
(Foto: MPI/Avirista Midaada)
Kadir, salah satu pemandu wisata Pesarean Gunung Kawi mengakui, mitos pesugihan berkembang di Gunung Kawi, tetapi ia menegaskan di Pesarean Gunung Kawi bukanlah merupakan tempatnya. Makanya ia selaku pemandu wisata juga memberikan penjelasan informasi secara detail ke wisatawan yang berkunjung.
"Kadang-kadang saya kasih penjelasan, karena terkenalnya di sini ini pesugihan, biar nggak salah persepsi. Banyak yang salah persepsi karena di medsos Gunung Kawi ini, katanya menyimpan harta karun, yang tuyul, demit, setan, ini mencoba untuk menjelaskan tidak begitu," ucap Kadir kepada MPI.