Walaupun demikian, ia tidak dapat menjamin garansi pasien dapat pulih 100 persen dari juling pasca operasi dijalankan. Hal itu disebabkan karena penyembuhan tergantung dari kondisi masing-masing pasien.
Dikutip dari Antara, ia juga meminta supaya masyarakat tidak termakan oleh pengetahuan palsu yang mengatakan mata juling tidak dapat disembuhkan, sehingga membentuk stigma bahwa ‘kelompok juling’ adalah orang-orang yang berbeda dan menyebabkan penderitanya mengalami penurunan kepercayaan diri hingga tekanan psikologis.
“Mohon dipahami bahwa mata juling terjadi akibat posisi kedua bola mata tidak sinkron dan terlihat menyimpang dari posisi yang seharusnya. Kondisi itu dapat terjadi pada berbagai macam usia, jenis kelamin, secara mendadak atau sejak lama, dengan berbagai potensi penyebabnya,” katanya.
(Dyah Ratna Meta Novia)