Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Anak Suka Lakukan Gerakan Tutup Mulut?

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Jum'at, 06 Oktober 2023 |17:44 WIB
Kenapa Anak Suka Lakukan Gerakan Tutup Mulut?
Anak Tak Mau Makan. (Foto: Freepik)
A
A
A

GERAKAN Tutup Mulut (GTM) oleh anak memang bisa membuat orang tua frustrasi. Pasalnya, akan menghbiskan waktu yang lama untuk membuat anak menghabiskan makannya tersebut.

Dr Tan Shot Yen, ahli gizi komunitas lulusan Universitas Indonesia, berpendapat bahwa anak-anak yang melepeh atau menutup mulut mungkin disebabkan oleh masalah tekstur makanan dan anak-anak tidak lagi mau makan makanan lunak.

"Anak-anak sudah tidak mau lagi makan bubur yang becek. Mereka sudah mau makan bubur yang kental. Jadi, pastikan buburnya kental tapi tetap halus. Pada tahap ini, anak sudah mengembangkan teksturnya," kata dia seperti dilansir dari Antara.

Tan Shot Yen mengatakan, penyebab lainnya adalah maag dan kerusakan gigi yang disebabkan oleh orang tua yang lupa menyikat gigi anaknya. Dia mengatakan, meski gigi anak baru tumbuh satu atau dua gigi, tetap harus disikat dengan pasta gigi berfluoride.

Selain itu, jika anak tidak bisa berkumur, orang tua bisa membantunya menyeka mulut dengan handuk hangat atau air hangat. “Anak tidak bisa berkumur? Tidak perlu berkumur, cukup dilap dengan waslap hangat dan air hangat,” ujarnya.

Perawatan gigi secara teratur, lanjut Tan Shot Yen, membuat anak tidak pilih-pilih tumbuh gigi, karena tidak terjadi infeksi karena rongga mulut dirawat dengan baik sejak dini.

“Jadi kalau anak ganti gigi di usia 6 atau 7 tahun, gigi susunya masih istimewa dan tidak ada kerusakan gigi. Anak yang mengalami kerusakan gigi cenderung tidak mau makan. Anak tidak mau makan karena tidak mau makan. ibu-ibu mengira mereka kekurangan vitamin,” ujarnya.

Terkait penyebab GTM, menurut penelitian yang dilakukan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diketahui bahwa perilaku makan yang tidak tepat atau pemberian makan yang tidak sesuai usia menjadi penyebab paling umum. IDAI meyakini hal ini biasanya terjadi sejak masa penyapihan atau saat pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).

Menurut IDAI, pola makan yang baik harus memperhatikan beberapa faktor seperti ketepatan waktu, kuantitas dan kualitas makanan, kebersihan dalam penyiapan dan penyajian makanan serta harus sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Selain itu, pemberian makanan sesuai tahap perkembangan anak meliputi tekstur makanan dan perbandingan makanan padat dan cair.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement