PEMAKAIAN asbes sebagai atap rumah masih banyak dipilih oleh masyarakat. Hal itu karena asbes memiliki harga yang relatif murah dibanding menggunakan genteng.
Namun sayangnya penggunaan asbes ini berdampak buruk pada kesehatan lho. Salah satunya bisa menyebabkan gangguan pernapasan yang disebut dengan asbestosis.
Menurut WHO, diperkirakan sekitar 125 juta orang di seluruh dunia terpajan penggunaan asbes pada atap-atap rumah, dan sekitar 90 ribu orang di antaranya diperkirakan meninggal dunia setiap tahun akibat penyakit asbestosis, kanker paru-paru, dan mesothelioma.

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan asbestosis sendiri merupakan suatu penyakit dari paru yang ditandai dengan terjadinya fibrosis.
"Fibrosis itu kekakuan jaringan paru, sehingga oksigen kalau mau masuk ke paru atau jaringan pembuluh darah terhambat karena kan jaringannya menjadi kaku sehingga oksigennya terhambat masuk," ujar Prof Agus saat dihubungi MNC Portal melalui sambungan telepon.
Prof Agus menjelaskan seseorang yang menderita asbestosis prosesnya sangat lambat, mulai dari yang ringan sampai berat. Biasanya terjadi setelah 10-15 tahun ketika seseorang terpajan debu asbes terus menerus.
"Biasanya asbestosis terjadi karena terhirupnya debu-debu halus yang mengandung komponen asbes debu-debu halus selama bertahun-tahun di dalam jaringan paru sehingga merangsang terjadinya fibrosis," tuturnya.
Seseorang yang mengalami asbestosis akan mengalami beberapa gejala seperti sesak napas hingga batuk-batuk.
"Mereka juga akan merasa napasnya berat jadi pasien itu harus tergantung pada oksigen," tambahnya.
Lantas apakah asbestosis bisa disembuhkan? Prof Agus menuturkan penderita asbestosis tidak bisa disembuhkan apalagi bila sudah stadium lanjut.
"Pasien asbestosis stadium lanjut yang berat harus terapi oksigen setiap hari karena parunya sudah kaku. Atau kalau perlu ditransplantasi paru, itu diganti paru dengan paru baru bisa dilakukan," paparnya.
Sementara itu, cara menghindari penyakit asbestosis, Prof Agus menyarankan tidak menggunakan material asbes untuk atap rumah. Tapi kalau memang tetap ingin memakai asbes sebaiknya diganti secara berkala.
"Asbes kalau dalam bentuk lembaran nggak lepas debunya tapi kalau sudah sekian tahun kena panas dan hujan jadi mudah pecah selaputnya lepas. Kalau mau pakai asbes sebaiknya diganti setiap berapa tahun sekali supaya tidak sampai pecah, kalau pecah risiko terhirup debu ke orang yang di bawahnya yang tinggal," jelasnya.
Namun pajanan asbes ini sebenarnya tidak hanya di rumah, tapi juga di tempat kerja. Biasanya orang-orang bekerja di galangan kapal atau perakitan mobil lebih berisiko mengalami asbestosis.
"Jadi mereka yang bekerja itu harus menggunakan alat pelindung diri yang betul, pakai masker sesuai rekomendasi dari perusahaan agar tak terhirup debu-debunya itu," pungkas Prof Agus.
(Dyah Ratna Meta Novia)