Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Polusi Udara, Kasus Penyakit Respirasi di Jabodetabek Meningkat

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Kamis, 14 September 2023 |21:30 WIB
Polusi Udara, Kasus Penyakit Respirasi di Jabodetabek Meningkat
Polusi udara Jakarta. (Foto: Antara)
A
A
A

DIREKTUR Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan bahwa kasus penyakit respirasi di Jabodetabek meningkat dalam enam bulan terakhir. Data tersebut merujuk dari laporan yang dilakukan oleh Puskesmas maupun rumah sakit di wilayah Jabodetabek.

"Dalam enam bulan terakhir menunjukan terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dilaporkan di Puskesmas maupun di rumah sakit Jabodetabek. Untuk wilayah DKI Jakarta mencapai 100 ribu kasus/bulan," papar Maxi dalam keterangan persnya.

 penyakit respirasi

Masalah polusi udara sudah menjadi perhatian nasional mengingat dampak besar akan kesehatan. Bahkan peningkatan kasus itu juga sudah menjadi pembahasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IX di Kompleks Parlemen, Senayan.

Ketua Pokja Asma dan PPOK dari Pehimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr. Budhi Antariksa, SpP(K) menjelaskan, polusi udara memang bisa menjadi salah satu pencetus yang menimbulkan penyakit respirasi.

 BACA JUGA:

dr. Budhi menjelaskan hal ini juga cukup menghawatirkan di mana prevalensi penyandang asma di Indonesia per tahun 2022 mencapai 7% atau 18 juta orang. "Pasien asma adalah penyakit penyempitan saluran nafas karena ada pencetusnya. Dari luar adalah polusi udara, asap rokok hingga stres yang merupakan faktor harus dikontrol," kata dr Budhi.

Menurut dr. Budhi, Puskesmas perlu ditingkatkan sebagai lini pertama untuk diagnosa dan pengobatan penyakit respirasi, termasuk asma. Selain persiapan spirometri sebagai alat pendukung diagnosa, pasien juga perlu diberikan obat sesuai tatalaksana medis terkini.

 BACA JUGA:

Contohnya, obat asma saat ini yang tersedia di puskesmas adalah obat pelega oral yang jika digunakan dalam jangka panjang justru dapat meningkatkan resiko terjadinya serangan asma. “Supaya serangan asma tidak sering terjadi, pasien perlu diberikan obat pengontrol asma inhalasi di tingkat Puskesmas supaya asmanya terkontrol tidak hanya gejalanya,” ujar dr. Budhi.

dr. Budi menambahkan, sebenarnya obat pengontrol asma inhalasi sudah lama ada di BPJS tapi hanya tersedia dalam jumlah terbatas di Puskesmas. “Dokter umum sudah memiliki kompetensi untuk mendiagnosa dan memberikan pengobatan untuk berbagai penyakit respirasi, termasuk asma. Namun dengan adanya obat pengontrol, dokter Puskesmas akan bisa memberikan obat asma sesuai kebutuhan pasien berdasarkan tatalaksana medis pengobatan asma terkini,” tutup dr. Budi.

Sebagai informasi, beberapa penyakit yang mungkin terjadi akibat polusi udara ini antara lain adalah serangan asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Pneumonia, serta Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Merujuk data situs pemantau kualitas udara IQAir, Jumat (1/9) indeks kualitas udara (AQI) kota Jakarta berada di angka 160 dengan kategori tidak sehat. Yang berarti memiliki kadar polutan particulate matter 2,5 (PM 2,5) tinggi.

Jakarta dalam urutan kota kedua dengan polusi tinggi dunia dibawah Kolkata, India dengan angka 161. Sedangkan Dubai, Uni Arab Emirates memiliki angka 158. Adapun indeks kadar udara yang bersih ada di angka 0-50, sedangkan moderate di angka 51-100, dan tidak sehat untuk orang sensitif jika angkanya mencapai 101-150.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement