SEBUAH video yang menampilkan seorang anak ikut mendaki gunung viral di media sosial. Bocah laki-laki itu berjalan dengan trekking pole.
Tak pelak, video tersebut banjir kecaman warganet lantaran menganggap anak tersebut masih terlalu kecil untuk diajak naik gunung.
Terlepas dari pro dan kontra usia anak untuk naik gunung, sebagai orangtua sejatinya perlu mengetahui risiko yang akan dihadapi ketika mengajak anak Anda untuk mendaki gunung.
Kemungkinan cedera dan mengalami hipotermia menghantui anak-anak ketika mendaki gunung.
Melansir laman lighthikinggear.com, berikut 4 risiko yang mungkin saja terjadi pada anak-anak jika dipaksakan mendaki gunung;

1. Pergelangan kaki terkilir
Anak Anda mungkin menghadapi berbagai kemungkinan bahaya, seperti permukaan tergelincir, tanah tidak rata, atau penghalang tersembunyi lainnya, tergantung tempat Anda memilih untuk mendaki. Hal ini dapat menyebabkan kaki anak terkilir.
Perlindungan pergelangan kaki yang memadai pada alas kaki Anda dapat membantu mencegah cedera jenis ini. Anda juga dapat menggunakan tongkat trekking untuk menambah keseimbangan.
2. Nyeri lutut
Beberapa anak mungkin lebih rentan terhadap ketidaknyamanan lutut dibandingkan anak lainnya. Mungkin ada banyak alasan yang mendasarinya.
Anak-anak yang pernah mengalami masalah lutut sebelumnya, memiliki otot paha yang lemah atau tidak seimbang, posisi tempurung lutut yang tidak tepat,memiliki risiko lebih tinggi mengalami peradangan sendi atau masalah lutut.
3. Lecet
Lecet, biasanya dianggap sebagai penyakit ringan, tapi dapat terinfeksi jika dibiarkan atau tidak ditangani dengan benar. Gesekan menyebabkan cairan menumpuk dan meluas di antara lapisan kulit yang teriritasi, sehingga mengakibatkan lecet.
4. Hipotemia
Suhu ekstrem yang terjadi di gunung tentu berisiko bagi anak Anda. Di musim panas, ada risiko kelelahan akibat panas, sengatan panas, dan sengatan matahari.
Sementara di sisi lain, ada risiko hipotermia di musim dingin, yang bisa berbahaya jika anak-anak terkena suhu yang sangat rendah.
(Rizka Diputra)