POLUSI udara hingga kini masih mengancam kesehatan, tak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Banyak anak-anak yang rentan mengalami batuk dan flu secara berulang akibat polusi udara.
Dokter Spesialis Anak, dr. Arifianto, Sp.A(K) menjelaskan, polusi udara memiliki kontribusi erat dengan peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan baik akut (ISPA) maupun kronik. Namun perlu diketahui bahwa batuk pilek yang menyerang anak-anak dan dewasa diakibatkan oleh infeksi.

"Sesuai namanya infeksi, yakni disebabkan masuknya kuman ke dalam tubuh. Biasanya yang tersering adalah infeksi virus," ujar dr Arifin dalam cuitannya di Twitter @dokterapin.
Dokter Arifin mengatakan, ketika seorang anak mengalami selesma atau bahkan influenza yang merupakan ISPA atas, mereka mendapatkan virus dari orang lain yang tertular, dan bisa menular ke orang-orang lain di sekitarnya.
"Adanya demam makin menguatkan infeksi. Jadi, penyebabnya bukan polusi udara," tegasnya.
Polusi udara saat ini bisa berperan dalam memudahkan ISPA untuk berkembang, dan mungkin saja lebih lama durasi penyembuhannya. Risiko pneumonia (ISPA bawah) dan asma juga meningkat. Tetapi ingat, penyebab ISPA atas maupun bawah adalah infeksi, bukan polusi udara.
"Ketika anak tak kunjung sembuh, tidak lantas "hanya" menyalahkan polusi saja. Tetapi kendalikan potensi penularannya," katanya.
BACA JUGA:
Dokter Arifin mengatakan seringkali anak tak kunjung sembuh karena virusnya "pingpong" dari satu anak ke orang lainnya. Hal itu mengakibatkan sakitnya lebih lama karena potensi penularan yang tidak dikurangi.
"Inilah pentingnya masker tetap dipakai, cuci tangan setiap habis kontak, dan meliburkan anak dari daycare atau sekolahnya," paparnya.
Lebih lanjut dr Arifin mengatakan ketika anak mengalami flu dan batuk, tidak ada obat yang perlu diminum. Sebab dua penyakit itu memang tidak ada obatnya. Tapi sebaiknya orang tua melakukan observasi pada kondisi anak.
BACA JUGA:
"Kalau ada sesak, dehidrasi, kejang dan penurunan kesadaran, ya ke dokter," ucapnya.