Hal ini lantaran para pria lebih sering mengkonsumsi rokok secara signifikan terkait dengan peningkatan risiko diagnosis.
Sedangkan ketika dibandingkan dengan tingkat partikel dibawah 26,74 μg/m3 (mikrogram per meter kubik), mereka yang di atas 40,37 μg/m3 dikaitkan dengan peningkatan risiko diagnosis kanker mulut sebesar 43 persen.
Meskipun kasus ini adalah studi observasional, para peneliti belum dapat menetapkan penyebabnya yang sebenarnya.
Mereka menyimpulkan bahwa studi ini adalah yang pertama dalam mengaitkan masalah kanker mulut dengan PM2.5 dengan ukuran sampel yang besar. Sehingga temuan ini menambah bukti yang berkembang tentang efek buruk PM2.5 pada kesehatan manusia.
Di sisi lain, tak jelas bagaimana polutan udara dapat berkaitan dengan kanker mulut. Sehingga mereka akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hal tersebut.
Kepala Ekskutif Yayasan Kesehatan Mulut, dr Nigel Carter menyarankan agar para dokter gigi lebih meningkatkan kesadaran terhadap penyakit ini dan mengomunikasikan pentingnya deteksi dini.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.