SELAIN mencemari lingkungan, polusi udara ternyata bisa berpotensi menimbulkan kanker mulut.
Berdasarkan penelitian di Universitas Asia dan Universitas Kedokteran Chung Shan di Taiwan menemukan adanya hubungan antara tingkat polusi udara dengan kanker.
Penelitian tersebut juga dilakukan untuk memperingati hari aksi kanker mulut yang berlangsung sepanjang bulan November di Yayasan Kesehatan Mulut dan Yayasan Kanker Mulut.
Dilansir dari website Nature, Rabu (9/8/2023). Diperkirakan sebanyak 7.800 kasus baru kanker mulut dan orofaring terdiagnosis di Inggris.
Beberapa faktor risiko kanker mulut dipicu dengan gaya hidup yang tidak terjaga seperti merokok, minum alkohol, virus papiloma. Selain itu, paparan logam berat dam emisi dari tanaman petrokimia juga dianggap sebagai pemicu perkembangan penyakit.

sementara untuk polusi diketahui berbahaya bagi kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.
Lantas apakah polutan udara dapat menyebabkan kanker mulut?
Para peneliti sedang menilai basis data kanker, kesehatan, asuransi dan kualitas nasional. Sebanyak 66 stasiun pemantauan mereka buat pada 2009 untuk memantau kualitas udara di seluruh Taiwan.
Selanjutnya pada 2012-2013 mereka kembali memeriksa catatan kesehatan. Diketahui ada 482.659 laki-laki yang berusia 40 tahun ke atas yang telah memberikan informasi tentang merokok.
Kemudian dari diagnosis kanker mulut tersebut dikaitkan dengan polutan udara yang diambil pada 2009. Hasilnya menunjukkan bahwa pada 2012-2013 terdapat 1.617 kasus kanker mulut pada pria.
Hal ini lantaran para pria lebih sering mengkonsumsi rokok secara signifikan terkait dengan peningkatan risiko diagnosis.
Sedangkan ketika dibandingkan dengan tingkat partikel dibawah 26,74 μg/m3 (mikrogram per meter kubik), mereka yang di atas 40,37 μg/m3 dikaitkan dengan peningkatan risiko diagnosis kanker mulut sebesar 43 persen.
Meskipun kasus ini adalah studi observasional, para peneliti belum dapat menetapkan penyebabnya yang sebenarnya.
Mereka menyimpulkan bahwa studi ini adalah yang pertama dalam mengaitkan masalah kanker mulut dengan PM2.5 dengan ukuran sampel yang besar. Sehingga temuan ini menambah bukti yang berkembang tentang efek buruk PM2.5 pada kesehatan manusia.
Di sisi lain, tak jelas bagaimana polutan udara dapat berkaitan dengan kanker mulut. Sehingga mereka akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hal tersebut.
Kepala Ekskutif Yayasan Kesehatan Mulut, dr Nigel Carter menyarankan agar para dokter gigi lebih meningkatkan kesadaran terhadap penyakit ini dan mengomunikasikan pentingnya deteksi dini.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.