Setiap individu mengalami latensi tidur yang bervariasi tergantung seberapa mengantuknya mereka. Sebagai contoh, individu yang mencoba tidur lebih awal mengalami latensi tidur yang lebih lama.
Karena tidak terlalu lelah mereka membutuhkan waktu lama untuk tertidur. Sebaliknya, individu cenderung memiliki latensi tidur yang lebih pendek karena sangat mengantuk. Latensi tidur ini menjadi indikator kualitas tidur mereka secara keseluruhan.
Sementara melansir Webmd, tes latensi tidur dilakukan untuk menunjukan kualitas tidur dan mendiagnosis gangguan tidur seperti narkolepsi dan hipersomnia idiopatik.
Gejala dari kondisi ini meliputi kantuk berlebih pada siang hari dan kekurangan energi meski sudah tidur cukup pada malam hari.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi sleep latency seperti mengonsumsi alkohol, kafein, dan gula. Kebiasaan tidur, stress, dan lingkungan tidur juga mempengaruhi kualitas tidur seseorang.