BELUM lama ini seorang bocah berusia delapan tahun bernama Raya asal Tangerang Selatan didiagnosa terinfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Diketahui, bocah tersebut mengalami ISPA akibat sering menghirup asap pembakaran sampah yang kerap ada di belakang rumahnya. Bocah malang itu pun akhirnya harus menjalani perawatan intensif selama berhari-hari di Rumah Sakit Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan.
Saat ini, Raya diketahui masih dirawat di rumah sakit dalam pantauan dokter. Sebelum dinyatakan ISPA, bocah tersebut tiba-tiba mengalami sesak napas hingga cekungan di dadanya tampak terlihat jelas.
Lantas, apa saja hubungan antara paparan asap pembakaran sampah dengan penyakit ISPA? Berikut ulasannya, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (2/8/2023).

Sekadar informasi, kegiatan membakar sampah masih menjadi hal yang kerap terjadi di Indonesia. Meski masih banyak orang yang mengira bahwa kegiatan ini efektif untuk menyingkirkan sampah yang menumpuk, namun tidak banyak yang memahami bahwa asap selama proses pembakaran dapat menimbulkan bahaya, baik untuk lingkungan maupun kesehatan.
Sampah sendiri terdiri dari jenis organik dan anorganik. Jika keduanya dicampurkan begitu saja saat dibakar, keduanya memiliki zat berbahaya yang bisa dilepaskan ketika dibakar. Ketika Anda membakar kedua sampah tersebut secara bersamaan, akan ada banyak zat beracun yang terkumpul dalam asap.
Zat beracun yang dihasilkan dari pembakaran sampah organik seperti kayu, daun kering, dan sisa makanan, biasanya akan menghasilkan uap berupa karbon dioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrokarbon, dan gas rumah kaca lainnya.
Selain itu, terdapat juga partikel kecil dalam asap yang jika terhirup akan sangat memengaruhi kesehatan manusia, terutama pada sistem pernapasan. Sementara itu, membakar sampah anorganik seperti plastik, bisa lebih berbahaya lagi.
Pasalnya, plastik pada dasarnya sudah mengandung banyak bahan kimia, berbahaya. Nah, jika dibakar maka akan banyak bahan kimia beracun yang dilepaskan dari sampah plastik.
Mulai dari Nitrogen oksida, Sulfur dioksida, bahan kimia organik yang mudah menguap (VOC), bahan organik polisiklik (POM), logam berat seperti dioksin, serta Benzo(a)pyrene (BAP) dan polyaromatic hydrocarbons (PAHs), yang keduanya telah terbukti menyebabkan kanker.
Gangguan pernapasan merupakan salah satu dampak yang paling umum terjadi akibat asap pembakaran sampah. Sebab, asap hasil pembakaran sampah dapat mencemari udara sekitar. Jika Anda menghirupnya, maka zat-zat dalam asap pun otomatis juga ikut terhirup.
Biasanya hal ini menimbulkan batuk, sesak napas, dan hidung terasa perih. Dalam jangka panjang, menghirup asap terus menerus berpotensi menyebabkan masalah pernapasan yang lebih parah.
Beberapa penyakit diantaranya seperti ISPA, infeksi paru-paru, pneumonia, bronkitis, dan alergi. Terutama bagi mereka yang sudah memiliki penyakit pernapasan sebelumnya. ISPA sendiri adalah infeksi di saluran pernapasan, yang menimbulkan gejala batuk, pilek, disertai dengan demam. ISPA sangat mudah menular dan dapat dialami oleh siapa saja.
Berdasarkan data WHO, ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98 persennya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Salah satu penyebabnya karena polutan udara.
Timbulnya gejala pada penyakit ISPA biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Adapun gejala penyakit ISPA biasanya meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, coryza (pilek), sesak nafas, hingga kesulitan bernapas.
Infeksi ini sangat berbahaya, baik pada anak-anak, orang tua, serta orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. Jika tidak diobati, infeksinya bisa menyebar ke seluruh sistem pernapasan.
Infeksi saluran pernafasan akut membuat tubuh Anda tidak mendapatkan oksigen dan bisa mengakibatkan kematian.
(Leonardus Selwyn)