RUMAH Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Kota Jakarta Pusat dulu pernah jadi kediaman Soekarno. Di rumah itulah, Bung Karno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Rumah itu kini tinggal nama karena bangunannya sudah dibongkar pada 1960-an atas perintah langsung dari Soekarno. Namun, kompleks itu dijadikan Taman Proklamasi yang di dalamnya ada taman bunga dan pepohonan asri.
Di situ dibangun juga Tugu Proklamasi dengan patung Soekarno dan Hatta yang berdiri membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
BACA JUGA:
Rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 itu merupakan milik Faradj bin Said Awad Martak, seorang pengusaha keturunan Arab-Indonesia bernama.
Demi kepentingan perjuangan saat itu, Faradj Martak menghibahkan rumahnya kepada Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai gedung perjuangan rakyat.

Tugu Proklamasi (Okezone.com/Puteranegara)
Faradj bin Said Awad Martak merupakan Direktur Utama NV Algemeene Import-Export en Handel Marba. Saudagar kaya ini lahir di Yaman Selatan. Sejak zaman kolonial, ia sudah terkenal sebagai saudagar terkemuka di Batavia atau Jakarta sekarang.
Bisnisnya kemudian diteruskan oleh sang anak yang bernama Ali bin Faradj Martak. Diketahui sang anak juga sangat dekat dengan Bung Soekarno.
BACA JUGA:
Jasa Faradj bin Said Awad Martak tidak berhenti sampai di situ. Ia menyambut kedatangan Bung Soekarno setelah peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945. Sang Proklamator ternyata terserang demam dan beristirahat di rumah saudagar kaya itu di Jalan Pegangsaan Timur 56.
Faradj bin Said Awad Martak memberikan madu Arab untuk menurunkan demam Bung Soekarno. Madu Arab itu bernama Sidr Bahiyah dari tempat kelahiran Faradj bin Said Awad Martak di Hadramaut, Yaman.