Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Penyakit Retinophaty of Prematurity Diderita Putri Ariani, Penyanyi Indonesia Peraih Golden Buzzer di AGT

Kevi Laras , Jurnalis-Jum'at, 09 Juni 2023 |14:20 WIB
 Mengenal Penyakit Retinophaty of Prematurity Diderita Putri Ariani, Penyanyi Indonesia Peraih Golden Buzzer di AGT
A
A
A

MENGENAL penyakit retinophaty of prematurity diderita Putri Ariani, penyanyi Indonesia peraih Golden Buzzer di AGT perlu diketahui.  Wanita bersuara merdu, Putri Ariani, namanya sangat populer karena tampil diajang pencarian bakat America's Got Talent (AGT).

Nama Putri pun juga sempat Trending di Twitter karena semua juri memujinya, terutama Simon Cowell.

 Putri

Aksi panggung yang memukau, berhasil mengangkat Putri mendapatkan Golden Buzzer. Artinya, ia tidak harus melewati babak bootcamp kompetisi karena langsung ke tahap live shows.

Dibalik prestasinya, Putri ternyata mengidap Retinopathy of prematurity (ROP) yang membuatnya cukup terbatas dalam beraktivitas. Melansir dari Kidshealth kalau ROP merupakan penyakit mata yang terjadi pada bayi prematur, hal ini sesuai dengan Putri karena dia lahir saat usia 6 bulan 18 hari.

Sekitar pada usia 3 tahun, diketahui perkembangan matanya tidak terbentuk sempurna, sehingga ia tidak bisa melihat. Menurut Kidshealth bayi lahir sebelum usia kehamilan 31 minggu, atau yang beratnya kurang dari 1.500 gram saat lahir, paling berisiko.

"Jadi kelahiran dini dapat mengganggu pertumbuhan ini atau menyebabkan pertumbuhan yang tidak normal," keterangan dalam website Kidshealth.

Lalu bagaimana penyakit ROP diketahui?

Sayangnya ROP tidak memiliki tanda atau gejala saat pertama kali berkembang pada bayi baru lahir. Namun, satu-satunya cara untuk mendiagnosisnya dengan pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata.

 BACA JUGA:

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2001, ROP jadi penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan pada anak di negara-negara berpenghasilan tinggi, dan penyebab kedua setelah katarak di negara-negara berpenghasilan menengah.

 BACA JUGA:

Melansir dari laman Yankes Kementerian Kesehatan kalau angka kejadian ROP di Indonesia pada tahun 2016 – 2017 sebesar 18% pada bayi yang lahir di usia kehamilan < 28 minggu, 7% pada bayi yang lahir di usia kehamilan 28 – 32 minggu, dan 3.8% pada bayi yang lahir di usia kehamilan > 32 minggu.

"Kebutaan pada ROP dapat dicegah dengan melakukan skrining di waktu yang tepat untuk menegakkan diagnosis dan memberikan tatalaksana yang adekuat," keterangan dalam website.

Perlu diketahui, skrining ROP mulai dilakukan tergantung dari usia kehamilan. Saat bayi lahir di usia kehamilan > 30 minggu, skrining dilakukan 2-4 minggu setelah kelahiran. Jika bayi lahir di usia kehamilan ≤ 30 minggu, skrining dilakukan 4 minggu setelah kelahiran.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement