Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Disuruh 15 Dokter Ganti Tempurung Lutut Rp150-jutaan, Pasien Pilih Berobat ke Malaysia!

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Senin, 05 Juni 2023 |14:10 WIB
 Disuruh 15 Dokter Ganti Tempurung Lutut Rp150-jutaan, Pasien Pilih Berobat ke Malaysia!
Pasien periksa (Foto: Health)
A
A
A

SAAT ini banyak orang berobat ke luar negeri (LN) seperti ke Malaysia dan Singapura. Kisah ini muncul di Twitter.

Netizen dengan akun @savikovic menjelaskan, ada pasien divonis 15 dokter harus ganti tempurung lutut dengan harga sampai 150 jutaan.

Alhasil, si pasien dikatakan memilih ke Penang, Malaysia untuk berobat dan harganya ternyata cuman 50 jutaan tanpa perlu melakukan operasi.

 Malaysia

"Baru denger cerita pengalaman pasien yg divonis 15 dokter harus ganti tempurung lutut (±150juta), ambil second opinion ke Penang, nggak perlu operasi, total biaya pengobatan ±50juta sudah sama tiket pulang pergi," katanya yang kini jadi viral di Twitter.

Melihat fenomena masyarakat berobat ke luar negeri, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Mohammad Syahril kalau secara umum masyarakat memilih ke luar negeri karena gaya hidup atau lifestyle.

Namun juga tidak menutup kemungkinan karena keyakinan yang melekat serta kepercayaan pada sistem kesehatan. Walaupun pengobatan di Indonesia juga dikatakan bagus, tidak kalah dengan luar negeri.

"Berobat keluar negeri itu pilihan dan keyakinan, tapi keseluruhan karena dia ada kewenangan memilih. Dan ujungnya trust kepercayaan. Ada yang terbukti beberapa penyakit berobat di situ (di Indonesia) bisa sembuh kok," ungkap dr Syahril saat Kata dalam Media Briefing PPOK di Jakarta.

Sementara faktor penentu masyarakat memilih ke luar negeri karena juga sisi dari pelayanan dan bagaimana akses obat-obatnya.

"Bisa karena gaya hidup. karena kalau gak keluar negeri malu dan gengsi, ada bisik-bisik tetangga gitu. Selain itu, orang pilih gimana pelayanan mendapatkan obat, totalitas rumah sakit pelayanan obat, bukan cuma dokternya," jelas dr Syahril.

 BACA JUGA:

Di sisi lain, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menjelaskan, kalau pengobatan di luar negeri dan dalam negeri sama baiknya.

 BACA JUGA:

Dia mengatakan, Indonesia masih perlu meningkatkan kualitas dengan perbaikan dan jalin kerjasama dengan fasilitas kesehatan internasional.

"Kita tahu ada sekitar 160 triliun yang dibelanjakan wni kita untuk pengobatan di luar negeri, sementara kalau kita lihat memang kompetensi dan kemampuan dan sarana dan prasarana kita sama baiknya," kata dr Nadia dalam keterangannya diterima MNC Portal.

"Oleh karena itu mengapa kita terus melakukan perbaikan layanan dengan bekerja sama dengan faskes international ternama merupakan pusat rujukan global seperti mayo clinic, cleveland dan lainnya adalah untuk makin memperkuat layanan faskes dan SDM nakes kita," imbuhnya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement