ARITMIA jantung jangan diabaikan keberadaannya sebab jika diabaikan bisa berakibat fatal. Lalu apa itu aritmia.
Aritmia merupakan gangguan fungsi jantung akibat aktivitas listrik jantung yang abnormal. Artinya, detak jantung bisa tidak teratur, lebih cepat, atau lebih lambat dari normalnya.
Gejala yang terjadi antara lain jantung berdebar-debar. Gejala lain bisa berupa dada tidak nyaman, sesak napas, cepat capek, atau kliyengan. Pada kondisi lebih serius, aritmia jantung dapat menyebabkan stroke, sering pingsan, bahkan kematian mendadak.
Lalu bagaimana cara mengobati aritmia jantung?
Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SP.JP (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, selaku Chairman of The Arrhythmia Center di RS Siloam TB Simatupang dalam rangka 1 dekade berdirinya RS Siloam TB Simatupang memberikan edukasi mengenai, layanan kardiologi untuk penderita fibrilasi atrium atau gangguan irama jantung alias aritmia. Pengidap aritmia bisa menjalani pengobatan dengan metode cryoablation.
"Metode pengobatan ini dilakukan secara prosedur minimal invasif dengan menggunakan energi beku di bawah 40 derajat Celsius yang diarahkan ke serambi jantung untuk menciptakan efek terapi," ujar Dokter Yoga.
Metode ini, terang Dokter Yoga, memiliki tingkat keberhasilan yang sama atau bahkan lebih tinggi daripada metode radioterapi, namun dengan resiko yang lebih rendah. "Kami mampu melakukan tindakan ini agar pengidap aritmia bisa sembuh dan hidup lebih baik."
Berdasarkan data dari Perkumpulan Kardiologi Indonesia tahun 2019, penderita aritmia di dunia tercatat sebanyak lebih dari 37 juta kasus atau sebesar 0,51% dari total populasi dunia.
BACA JUGA:
Jumlah penderita aritmia secara global juga tercatat meningkat sebesar 33% dalam 20 tahun terakhir. Di Jakarta sendiri, berdasarkan penelitian dari Multinational Monitoring of Trend and Determinant in Cardiovascular Disease tahun 2021, angka kejadian gangguan irama jantung tercatat sebesar 0,2% dari jumlah populasi urban di kota Jakarta.
BACA JUGA: