INDONESIA tak lepas dari tradisi unik yang menarik untuk dibahas. Misalnya tradisi Bau Nyale atau tangkap cacing di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Menurut situs Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tradisi Bau Nyale ini terdiri dari dua suku kata, 'Bau' yang artinya menangkap, sementara Nyale merupakan cacing jenis filum annelida.
Bau Nyale sudah menjadi bagian dari tradisi turun temurun yang lengket di kalangan masyarakat Lombok.
BACA JUGA:
Tapi, dibalik tradisi menangkap cacing atau Bau Nyale ini, apa tujuan sebenarnya? Untuk membahas hal tersebut, perlu diketahui pula bahwa tradisi Bau Nyale mulanya berasal dari legenda Putri Mandalika.
Cikal Bakal Tradisi Bau Nyale
Mandalika dikisahkan sebagai seorang putri yang cantik dan berbudi luhur. Tak heran, sosok sang putri menjadi rebutan pangeran kerajaan.
Tradisi bau nyale (Kemenparekraf)
Tapi karena hal itu lah persaingan mulai terjadi dan keutuhan masyarakat Lombok pun turut terancam. Putri Mandalika jelas ingin mempertahankan kerukunan masyarakat sekitar.
BACA JUGA:
Pada suatu ketika, Putri Mandalika melakukan semedi. Dari sana, dia mendapat wangsit yakni mengumpulkan para pangeran yang hendak meminangnya.
Mereka semua kemudian berkumpul di Bukit Seger sesuai permintaan Putri Mandalika.
Tapi, bukannya memilih salah satu pangeran, Putri Mandalika malah menegaskan bahwa cintanya adalah untuk masyarakat, lalu terjun ke laut.
Selang beberapa saat usai Putri Mandalika melakukan aksi nekatnya tersebut, cacing warna-warni di pantai lokasi hilangnya sang putri.
Masyarakat kemudian menyebut hewan melata itu sebagai Nyale.
Tujuan Tradisi Bau Nyale
Tradisi Bau Nyale ditujukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Putri Mandalika. Pasalnya, masyarakat setempat sangat yakin bahwa nyale yang banyak muncul di pantai merupakan jelmaan dari rambut sang putri.
Untuk itu, setiap tanggal 20 pada bulan 10 Kalender Sasak, masyarakat Lombok pun mengadakan ritual adat. Waktu tersebut dipercaya bertepatan dengan menghilangnya Putri Mandalika.

Runi Fazalani dalam jurnal pendidikan bahasa dan sastra Indonesia berjudul 'Tradisi Bau Nyale Terhadap Nilai Multikultural Pada Suku Sasak' mengatakan, salah satu fungsi dari tradisi Bau Nyale adalah sebagai rekreasi masyarakat.
Disebutkan bahwa, penangkapan Nyale kerap dilakukan selesai menanam padi di sawah. Menangkap Nyale dinilai dapat melepaskan rasa lelah yang selama ini mereka pikul.
(Salman Mardira)