MENGUPAS seputar Hari Raya Nyepi di Bali lengkap dengan sejarah, makna, tujuan, dan cara merakayannya. Perayaan Nyepi sangat terasa di Bali karena mayoritas masyarakatnya beragama Hindu.
Hari Raya Nyepi bertepatan dengan pergantian Tahun Baru Saka. Ada serangkaian upacara dan ritual yang mewarnai perayaan Nyepi.
Berikut sejarah, makna, tujuan, dan cara merayakan Hari Raya Nyepi di Bali.
BACA JUGA:
Sejarah
Konon sejarah Hari Raya Nyepi bermula pada perebutan kekuasaan di India yang diwarnai konflik sosial dan agama yang tak kunjung usai.
Dari konflik panjang tersebut akhirnya suku Saka keluar sebagai pemenang di bawah kepemimpinan Raja Kaniskha I dari Dinasti Kushana dan suku Yuehch.

Umat Hindi beribadah saat Nyepi.
Sang raja pun berhasil merangkul seluruh suku-suku di India tanpa menghancurkan paham dari suku lain sehingga terbentuklah kerajaan yang besar.
Karena itulah Raja Kaniskha I pada Maret tahun 78 masehi ditetapkan sistem kalender Saka yang digunakan sebagai kalender kerajaan.
Sistem kalender Saka pun berkembang dengan sangat baik mengikuti persebaran agama Hindu dan setiap peringatan tahun Saka memiliki makna kesatuan, kedamaian, kerukunan, dan keberihasilan.
Sejarah tahun Saka di Bali sendiri berasal dari seorang pendeta Kshatrapa Gujarat dari suku Saka yang kemudian diberi gelar Aji Saka.
Kehadiran Aji Saka ini untuk mengenalkan kalender Saka dan sejarahnya berkembang dengan baik hingga jaman Kerajaan Majapahit.
Pergantian tahun Saka sendiri terjadi pada sasih Kesanga (ke-9) yang jatuh di bulan Maret-April pada tahun Masehi.
BACA JUGA:
Makna dan Tujuan
Bagi umat Hindu, Hari Raya Nyepi memiliki makna dan tujuan sebagai terciptanya suasana sepi dari hiruk pikuknya kehidupan serta nafsu dan keserakahan sifat manusia.
Juga sebagai waktu untuk memohon ampunan kepada Tuhan dan melakukan penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam semesta).