DOKTER Adityawati G. M.Biomed dari MRCCC Siloams Hospitals Semanggi menyarankan agar skrining atau tes mamografi untuk deteksi kanker payudara mulai dilakukan pada perempuan berusia 35 tahun ke atas. Apa alasannya?
Ya, tidak semua perempuan disarankan lakukan tes mamografi untuk deteksi kanker payudara. Bukan tanpa alasan, itu berkaitan dengan gambar hasil mamografinya.

"Pada perempuan produktif, masih menyusui, atau masih berencana punya anak, payudara mereka masih dipenuhi kelenjar ASI dan ini memengaruhi hasil mamografinya," kata dr Dita, sapaan akrabnya, saat ditemui di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta Selatan, Selasa (7/3/2023).
"Nah, karena kelenjar ASI-nya masih banyak, itu bakal bikin nyaru hasil mamografi. Jika ada kelainan seperti sel kanker, gambarannya jadi tidak jelas," katanya.
Lain cerita pada perempuan berusia 35 tahun ke atas. Kelompok ini, kata dr Dita, kelenjar ASI-nya mulai tidak banyak, apalagi pada perempuan 40 tahun ke atas.
BACA JUGA: Muncul Benjolan di Payudara Segera Skrining, Sel Kanker Tumbuh Sangat Cepat Lho!
"Kebanyakan dari mereka payudaranya lebih banyak lemak dan tidak padat, yang mana dengan kondisi ini hasil mamografinya bisa lebih jelas terlihat jika ada kelainan," sambung dr Dita.