Setelah peradaban Jawa, Jalili juga menyebutkan Kabupaten Kudus kemudian juga didatangi oleh peradaban Tionghoa.
Hal tersebut juga tampak dari berbagai kebudayaannya yang kini masih ada di Kabupaten Kudus. Mulai dari kesenian barongan yang merupakan hasil adopsi dari kebudayaan barongsai Tionghoa.
Kemudian untuk peradaban yang ketiga adalah kebudayaan Arab melalui Syekh Ja'far Shodiq (Sunan Kudus), pada saat itu sebuah negeri atau wilayah bernama Kudus dibangun dan didirikan di Menara Kudus. Hal tersebut dikuatkan dengan adanya prasasti terkait hal ini.
Setidaknya, ketika banyak wisatawan yang berkunjung tidak hanya membawa oleh-oleh khas yang berwujud fisik, namun juga membawa kenangan dan cerita sejarah yang tidak ditemukan di daerah lain.

Sementara itu, Rektor IAIN Kudus Mudzakir berharap Kabupaten Kudus dapat memiliki tambahan ikon baru sebagai identitas kota agar dapat dikenal oleh kalangan luas, mengingat wisatawan menggelar kegiatan yang sifatnya nasional, dan biasanya melaksanakan kegiatan wisata kota sehingga menjadi kesempatan untuk membangun citra Kudus lewat ikon yang dimiliki.
Oleh karena itu, untuk ke depannya Kudus perlu memberikan identitas lokal sebagai ciri khas yang dapat dikenal nasional, bahkan dunia. Untuk itu, FGD diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi menarik terhadap identitas Kudus yang khas, sehingga menjadikan Kudus mengusung dari segi brand di tingkat nasional, bahkan internasional.