Selagi mendengarkan Ki Anom, pengunjung disuguhi embusan udara sejuk, menikmati hijau pepohonan yang memanjakan mata, dan mendengarkan suara ayam berkokok yang saling bersautan.
Ki Anom menjelaskan Bumi Adat atau Rumah Adat di Kampung Cikondang sudah berusia 370 tahun dan hanya ada tersisa satu rumah saja sehingga rumah ini menjadi peninggalan yang begitu berharga.
Menurut dia, ciri khas Kampung Adat Cikondang ialah tetap melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Salah satunya kuliner, seperti nasi tumpeng dan rujak curo.
Selain itu, setiap tanggal 1 Muharam ada kegiatan para ibu yang menumbuk padi untuk persiapan acara tahunan yaitu Wuku Taun, yang diadakan setiap tanggal 15 Muharam. Dahulu, pekerjaan utama warga Cikondang bertani, namun seiring zaman kini banyak warga yang memiliki beragam profesi.

(Foto: Instagram/@talunkebonsawah_sangkuriang)
Selesai mendengarkan penjelasan Ki Anom, para pengunjung dipersilahkan masuk ke dalam Rumah Adat.
Setelah melewati pintu masuk, terdapat keris kecil yang menempel di tengah-tengah pintu. Kemudian saat masuk ke dalam, terasa suasana tradisional yang terlihat dari banyaknya perkakas terbuat dari anyaman dan peranti dapur yang masih sangat tradisional.
Di dalam Bumi Adat tersebut terdapat dua kamar. Pertama, yaitu kamar larangan yang memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda keramat. Kamar kedua, yaitu goah. Kamar tersebut berfungsi untuk menyimpan beras.
Di dinding rumah tergantung pigura yang terbuat dari anyaman. Di dalam pigura-pigura tersebut terdapat nama-nama silsilah Kampung Adat Cikondang dan silsilah tetua Kampung Adat Cikondang.
(Rizka Diputra)