Bahkan pemerintah Hindia-Belanda perlahan melakukan intervensi sistem pemerintahan setempat melalui 'politik adu domba'.
Raja Selimbau tidak mampu mengendalikan pemerintahannya secara utuh sebab Belanda selalu mencampuri setiap keputusan yang dibuat oleh raja.
Pada tahun 1925, setelah Panembahan Haji Gusti Usman mangkat yang juga menandai berakhirnya kedaulatan Kerajaan Selimbau, pemerintah Hindia-Belanda dapat menguasai wilayah Kapuas Hulu secara utuh.

Era penjajahan Jepang
Jepang masuk ke wilayah Kapuas Hulu pada tahun 1942 dengan membuka pertambangan batu bara di bagian hulu Sungai Tebaung dan Sungai Mentebah.
Pada masa itu, wilayah Kalimantan Barat dipimpin oleh Abang Oesman, K. Kastuki dan Honggo. Kedatangan Jepang pada mulanya memberikan harapan baru bagi masyarakat, yaitu dibebaskan dari penindasan Belanda.
Namun pada kenyataannya, Jepang juga melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam dan manusia demi kepentingan sepihak.