Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Heboh Kasus TBC Anak di Bantul, Benarkah Karena Sering Dicium dan Digendong?

Wiwie Heriyani , Jurnalis-Minggu, 25 Desember 2022 |07:00 WIB
Heboh Kasus TBC Anak di Bantul, Benarkah Karena Sering Dicium dan Digendong?
Ilustrasi TBC anak. (foto: Istimewa)
A
A
A

DINAS Kesehatan Kabupaten Bantul baru-baru ini mencatat kasus baru penyakit Tuberkulosis atau TBC. Kasus yang mencapai 1.216 tersebut ditemukan di seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Bantul, dalam kurun waktu Januari hingga November 2022.

Dari jumlah tersebut, 619 di antaranya adalah kasus TBC pada anak dan 12 kasus pasien risesten obat. Angka 1.216 kasus tersebut masih 50 persen dari estimasi 2.431 kasus TBC di Bantul sehingga masih banyak orang dengan TBC yang masih belum ditemukan dan diobati.

 TBC anak

Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharja mengungkapkan, banyaknya kasus TBC pada anak tersebut karena masih banyak yang belum terdeteksi dan belum diobati, sehingga anak rentan tertular, apalagi sering dicium dan digendong.

“Contoh anak umur 2 tahun, kan sering digendong atau diciumi orang-orang. Hal itu risiko kontak semakin tinggi," kata Agus, baru-baru ini.

Lantas, seberapa besar potensi penularan TBC pada anak? Berikut ulasannya, dikutip dari beberapa sumber, Jumat, (23/12/2022).

TBC atau Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang organ paru-paru. TBC tidak hanya dapat diderita oleh orang dewasa, namun juga anak-anak.

Penyakit ini terutama menyerang paru, namun juga bisa mengenai organ lain seperti selaput otak, usus, kelenjar getah bening, ginjal, tulang, dan kulit.

Penularan TBC pada anak-anak memang tidak berbeda dengan orang dewasa, yakni dengan menghirup bakteri tuberkulosis di udara yang berasal dari penderita TBC. Bakteri dapat tersebar saat penderita batuk, bersin, berbicara, bahkan tertawa.

Penyakit TBC sangat mudah menular lewat udara. Namun, biasanya, anak-anak yang menderita infeksi bakteri ini tidak tertular dari anak lain yang juga terinfeksi.

Sumber penularan utama TBC pada anak-anak justru adalah lingkungan tempat tinggal yang terdapat orang dewasa pengidap TBC.

Meski begitu, anak pun bisa juga menularkan penyakit TBC yang dideritanya ke orang lain, terlepas dari berat atau ringannya penyakit sang anak.

TBC anak

Penularan penyakit ini bisa terjadi melalui droplet, yakni percikan lendir yang keluar dari saluran pernapasan, semisal saat anak batuk, bersin, atau bahkan meludah di dekat orang lain.

Menurut beragam penelitian, risiko penularan TBC ini paling tinggi saat penderita belum mendapat pengobatan dan bisa diturunkan usai melewati fase intensif pengobatan (2 bulan pertama) dengan OAT (obat anti TB) asalkan tidak terjadi resistensi.

Karena itu, orang tua diharapkan dapat waspada dan mengetahui berbagai gejala yang muncul apabila anak mengalami TBC.

Gejala penyakit TBC pada anak dapat bervariasi tergantung usia. Namun, gejala yang paling sering muncul di antaranya yakni demam dan menggigil, batuk-batuk, tubuh lesu, pembengkakan kelenjar, pertumbuhan tubuh terhambat, hingga peenurunan berat badan.

Kumpulan gejala tersebut dapat menyerupai penyakit lain pada sistem pernapasan. Maka dari itu, orangtua perlu mengawasi kondisi anak dan segera membawanya ke dokter untuk memastikan diagnosis.

(Vivin Lizetha)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement