KASUS gagal ginjal akut (GGA) terus berkembang, namun kepastian penyebabnya belum dapat dipastikan. Salah satu dari orang tua korban GGA, Safitri menyesalkan penanganan pada pasien GGA.
Safitri menjelaskan bahwa data untuk pasien GGA sebenarnya sudah ada sejak awal tahun yaitu Januari. Data tersebut dikatakan berubah-ubah, yang mana angkanya memang belum sebanyak pada bulan Agustus 2022.
Hal inilah sangat disayangkan oleh Safitri, karena GGA di awal sudah bisa menjadi pembelajaran oleh pemerintah.

"Saya lihat data dari Kemenkes berbeda -beda. ternyata data itu ada sejak Januari, kami sangat kecewa," kata Safitri salah satu orang tua korban GGA, dalam Media Briefing Korban Gagal Ginjal Akut Menggugat di Jakarta, Jumat (18/11/2022).
Dalam ceritanya, sang anak selama pengobatan sempat diberikan obat sirup. Namun kondisinya kurang lebih dalam seminggu tidak masalah, lalu mengalami penurunan.
Safitri juga menyesalkan karena selama pengobatan sang anak belum sempat mendapatkan perawatan, dengan Antidote Fomepizole. Hingga pada akhirnya, sang anak meninggal akibat GGA.
Antidote Diketahui sebagai penawar untuk GGA di Indonesia. Penawar ini didatangkan dari luar negeri, seperti Singapura, Australia dan Jepang.
"Anak saya berpulang 15 Oktober dan adanya obat antidote pada 18 Oktober. Tidak memang semua pasien berhasil dengan obat itu, tapi tidak ada salahnya kita coba. Kami sudah melakukan segalanya," jelas Safitri.