Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Menkes Datangkan Fomepizole Saat Penyebab Gangguan Ginjal Akut Belum Valid?

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Rabu, 02 November 2022 |18:08 WIB
Kenapa Menkes Datangkan Fomepizole Saat Penyebab Gangguan Ginjal Akut Belum Valid?
Anak kena gangguan ginjal akut (Foto: CNN health)
A
A
A

ALASAN Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendatangkan obat Fomepizole ke Indonesia untuk atasi gangguan ginjal akut jadi perbincangan hangat di ruang rapat bersama Komisi IX DPR RI.

Para anggota dewan mempertanyakan kenapa Menkes malah mendatangkan obat Fomepizole padahal penyebab gangguan ginjal akut belum ditetapkan secara pasti. Apakah ini ada kaitannya dengan upaya bisnis obat?

 Menkes Budi

Menkes Budi menjelaskan bahwa keputusan pemerintah mendatangkan obat Fomepizole untuk mengatasi masalah gangguan ginjal akut bukan keputusan sembarang.

"Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kemenkes dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), faktor terbesar yang menjadi penyebab gangguan ginjal akut adalah keracunan etilen glikol dan dietilen glikol," tegas Menkes, dipantau MNC Portal dalam siaran daring, Rabu (2/11/2022).

Dalam paparannya, pemerintah mengambil keputusan ini demi menyelamatkan nyawa anak-anak. Tidak ada alasan lain selain menyelamatkan nyawa.

 BACA JUGA:Pengobatan Gangguan Ginjal Akut, Menkes Budi Bantah Rumor Bisnis Obat Fomepizole

"Kami bisa saja menunggu untuk sampai ketemu penyebab pasti, tapi waktu berjalan terus dan perlu keputusan yang cepat dengan informasi terbatas, kami memilih untuk datangkan Fomepizole dan ternyata berdampak positif. Angka kematian menurun dan jumlah pasien di rumah sakit berkurang karena pasien kondisinya membaik," ungkapnya.

Menkes Budi buka-bukaan juga soal asal muasal obat Fomepizole yang dimiliki Indonesia. Dia menerangkan, tidak semua obat tersebut hasil hibah dari negara-negara luar.

"Kami awalnya membeli 30 vial Fomepizole dari Singapura. Kami beli, karena informasi yang kami terima adalah obat ini hanya ada di Singapura," cerita Menkes.

"Lalu, obat kami berikan ke pasien yang dirawat di RSCM dan ternyata memberi hasil positif. Baru dari sana kami coba hubungi beberapa negara lain dan ternyata kami dapat gratis dari Australia sebanyak 16 vial dan yang terbaru 200 vial dari Jepang," lanjutnya.

"Jadi, kami datangkan obat ini semata-mata untuk menyelamatkan anak Indonesia, tidak ada niat untuk bisnis obat. Melihat tren sekarang banyak pasien sudah sembuh, ada kemungkinan vial yang sudah ada akan jadi cadangan karena tidak diberikan ke pasien," tambah Menkes Budi.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement