Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waspadai Disleksia Pada Anak

Destriana Indria Pamungkas , Jurnalis-Kamis, 20 Oktober 2022 |09:30 WIB
Waspadai Disleksia Pada Anak
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

DISLEKSIA merupakan sebuah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Kondisi ini berkaitan dengan masalah indetifikasi kata yang diucapkan untuk dirubah menjadi huruf dan kalimat. Sering terjadi pada anak-anak.

Meski demikian, disleksia bukanlah masalah kecerdasa, pendengaran, atau penglihatan. Disleksia masuk ke golongan penyakit yang disebabkan karena gangguan saraf pada otak yang memproses bahasa.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai disleksia, berikut gejala, penyebab, faktor risiko, dan pengobatannya.

Gangguan Disleksia

Penderita disleksia memiliki gejala yang cukup beragam karena bergantung pada usia dan tingkat keparahannya. Akan cukup sulit mengenali gejala disleksia pada balita, namun pada anak-anak yang sudah belajar membaca atau masuk usia sekolah akan cukup mudah diketahui.

Dilansir Mayo Clinic, penyebab utama dari disleksia belum diketahui secara pasti. Namun, para peneliti menduga jika disleksia disebabkan karena adanya kelainan genetik yang menyebabkan kinerja otak dalam membaca dan berbahasa menajdi berkurang. 

Berkaitan dengan hal tersebut, berikut faktor-faktor yang bisa meningkatkan resiko seseorang terkena disleksia:

-Adanya riwayat keluarga yang terkena disleksia

-Bayi yang lahir prematur 

-Bayi yang terlahir dengan berat badan rendah

-Seorang wanita yang terkena paparan nikotin, alkohol, narkoba, atau infeksi-infeksi lain di masa kehamilan. 

Disleksia merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan umumnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penderita disleksia untuk bisa membaca atau menulis. 

Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan baca tulis adalah dengan melakukan metode fonik. Metode ini memiliki fokus utama untuk meningkatkan kemampuan mengidentifikasi dan memproses suara. 

Dalam metode ini, penderita akan belajar beberapa hal, seperti:-Mengenal bunyi dari kata yang terdengar mirip, seperti keledai dan kedelai.

-Latihan mengeja dan menulis dari kata sederhana hingga kalimat yang cukup rumit.

-Memahami huruf serta susunannya yang membentuk bunyi. 

-Membaca dengan tepat dan memahami maknanya.

-Menyusun kalimat dan memahami kosakata baru. 

Peran orang tua tentunya sangat penting dalam membantu proses kesembuhan anak. Sehingga dukungan orang tua secara moril dan emosional sangat dibutuhkan. 

Bagi penderita disleksia yang berada di usia dewasa bisa ditangani dengan cara;Melakukan pelatihan dan bimbingan secara rutin.Membantu penderita mempelajari, mengelola, dan mengatasi masalah. Memanfaatkan fitur teknologi yang dapat memudahkan mereka ketika bekerja. 

Demikian informasi mengenai disleksia. Semoga bermanfaat. 

(RIN)

(Rani Hardjanti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement