Danau yang terperangkap tersebut sangat asin dan kaya akan zat besi, dan ketika bereaksi dengan oksigen di luar, air terjun itu mendapatkan warna merah yang unik. Pada dasarnya, itu adalah fenomena yang sama yang memberi warna gelap pada besi saat mengalami proses perkaratan.
Di bawah gletser terdapat jaringan kompleks sungai subglasial, serta danau subglasial, yang semuanya kaya akan zat besi. Danau di bawah gletser juga sangat asin, dan karena air asin memiliki titik beku yang lebih rendah, melepaskan panas saat membeku, ia melelehkan es dan karenanya sungai di atasnya mengalir.
Saat seseorang bergerak lebih dekat ke air terjun, kandungan garamnya juga meningkat. Danau subglasial ini mengalir keluar melalui celah di gletser, dan membentuk air terjun tanpa mengganggu atau mencemari ekosistem di dalamnya.

Menurut peneliti, air asin ini juga membutuhkan waktu hampir 1,5 juta tahun untuk akhirnya mencapai Air Terjun Darah, karena jalurnya menjadi celah saluran gletser.
Teknologi yang digunakan untuk memecahkan kode misteri ini melibatkan transek gletser, menggunakan radio-gema yang terdengar untuk memahami fitur di bawah gletser. Sebuah radar untuk memindai es dari sungai yang mengalir.
Lingkungan subglasial ini juga ditemukan di planet lain, sehingga timbul pertanyaan apakah kehidupan juga mungkin ada di sana. Untuk mengakses lembah kering hanya bisa melalui helikopter dari Amerika dan Selandia Baru, atau menggunakan kapal pesiar di Laut Ross.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.