Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apakah Kecanduan Seks Termasuk Gangguan Jiwa?

Dyah Ratna Meta Novia , Jurnalis-Jum'at, 14 Oktober 2022 |01:07 WIB
Apakah Kecanduan Seks Termasuk Gangguan Jiwa?
Pasangan (Foto: Love panky)
A
A
A

KECANDUAN seks awalnya hendak dimasukkan dalam Panduan Diagnosa dan Statistik Gangguan Jiwa (DSM) yang banyak digunakan di Inggris dan Amerika Serikat. Namun ditolak karena kekurangan bukti.

Bagaimanapun, 'perilaku seksual kompulsif' kini tengah diajukan untuk masuk ke dalam panduan Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) yang dibuat Organisasi Kesehatan Dunia.

hubungan seks

Judi tadinya masuk kategori perilaku kompulsif, namun diberikan status diagnosa formal sebagai kecanduan pada 2013 setelah bukti-bukti baru bermunculan. Para ahli terapi meyakini kecanduan seks dapat menempuh jejak yang sama.

Sebuah kajian yang dirilis pada 2014, menunjukkan aktivitas otak para "pecandu seks" yang sedang menonton film porno sama dengan aktivitas otak para pecandu narkoba ketika diperlihatkan jenis narkoba yang mereka pilih.

Saat itu, Dr Valerie Voon dari Universitas Cambridge selaku ketua tim peneliti, mengatakan ini merupakan kajian pertama yang meninjau orang-orang yang mengidap gangguan tersebut dan mencermati aktivitas otak mereka.

"Tapi saya pikir kami belum cukup paham saat ini untuk mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah kecanduan," katanya dilansir dari BBC.

Keyakinan Anda bahwa seseorang bisa kecanduan seks amat tergantung dari apa yang Anda pikir bisa membuat kecanduan, dan tidak ada definisi resmi yang benar-benar diterima.

Jika hal tersebut murni membuat seseorang menjadi ketergantungan fisik, sehingga menjauh dari hal tersebut bisa menyebabkan cedera fisik, maka seks tidak bisa menjadi ketergantungan, menurut Dr Frederick Toates selaku profesor emeritus di Open University.

Meski demikian, dia meyakini definisi yang lebih luas soal ketergantungan akan lebih berguna.

Dr Toates mengatakan, ada dua elemen penting yang menandai kecanduan, yakni pencarian kepuasan dan adanya konflik seputar perilaku pencarian tersebut.

Pencarian kepuasan, menurut banyak pakar, membedakan kecanduan dengan perilaku obsesif kompulsif, meskipun ada kemiripan. Pengidap kecanduan akan mencari kepuasan jangka pendek, meskipun ada dampak negatifnya dalam jangka panjang.

Sedangkan pengidap gangguan obsesif kompulsif terlibat dalam perilaku yang tidak menghasilkan kepuasan.

Akan tetapi semua manusia mencari kenikmatan dan kepuasan. Lalu apa yang membedakan perilaku mencari kepuasan biasa dengan kecanduan?

Ahli Psikologi Dr Harriet Garrod menilai sebuah perilaku tergolong kecanduan ketika mencapai taraf intensitas yang menyebabkan dampak negatif terhadap individu dan mereka yang berada di sekitarnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement