Selain itu, bisa juga ditangani dengan melakukan prosedur operasi yang disebut dilatasi dan kuretase (D&C). Tindakan kuret biasanya yang paling sering dilakukan untuk mencegah atau menghentikan perdarahan yang hebat. Meski kuret sebagian besar merupakan prosedur yang aman, ingat tetap ada risiko potensial yang mungkin saja bisa terjadi pada sang ibu. Mulai dari terjadinya pendarahan, kerusakan serviks, komplikasi anestesi, evakuasi produk konsepsi yang tidak lengkap, infeksi, perforasi rahim, dan jaringan parut atau perlengketan pada dinding rahim, yang dapat mengakibatkan kondisi langka yang disebut sindrom Asherman.
BACA JUGA:3 Cara Mengobati Inkontinensia Urin Akibat Kerusakan Panggul
BACA JUGA:Kasus Gangguan Ginjal Misterius Anak Indonesia Melonjak, Ketahui Gejalanya!
Penanganan yang terakhir, yakni dengan melakukan prosedur operasi yang disebut dilatasi dan kuretase (D&C), dan manajemen medis dengan Cytotec (misoprostol). Cytotec (misoprostol) adalah obat yang bisa diberikan melalui vagina atau mulut. Obat ini menyebabkan rahim berkontraksi dan mengeluarkan jaringan kehamilan. Efek samping yang mungkin terjadi dari tindakan ini seperti diare, mual atau muntah- muntah, dan rasa sakit.
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.